1/ Awal Perkenalan
Sekitar pertengahan Oktober 2009, saya mengenal Bode Riswandi, penyair muda potensial Tasikmalaya, Jawa Barat melalui jejaring pertemanan, facebook. Seperti galibnya perkenalan, kami saling tegur-sapa, sesekali membincangkan puisi satu sama lain. Sesekali, saling lempar kritik dan saran. Sungguh pertemanan yang menyenangkan.
Pengaruh jejaring facebook sungguh luar biasa. Karya-karya kami, wabil khusus puisi, melayang, melesat hingga ruang-ruang renung satu sama lain. Tak jarang, selesai menulis puisi, kami bergegas mengantarnya ke beranda facebook.
Ah, lagi-lagi, facebook menjadi ruang diskusi yang menyejukkan. Karena itulah, satu-satunya cara kami memadu komunikasi. Dan komunikasi antara saya dan Bode masih terjaga. Baik lewat pesan singkat, facebook maupun yahoo messenger. Akhir Januari 2010, Bode yang juga sebagai salah satu pengajar di FKIP Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tasikmalaya (Unsil), memposting cover buku puisi berjudul ‘Mendaki Kantung Matamu’ terbitan Ultimus, Bandung.
Cover buku yang didominasi warna merah itu, langsung menghentak pikiran saya. Seketika itu juga saya bertanya dalam diri, inikah buku kumpulan puisi Bode? Sejenak saya terdiam, padahal, dulu sekitar dua bulan ke belakang, Bode tak pernah menyentuh soal buku puisi yang hendak ia terbitkan. Sungguh mengagetkan sekaligus menaruh bangga pada lelaki kelahiran Tasikmalaya 6 November 1983 itu.
Tak menunggu lama, sejak posting cover buku Bode yang diantar oleh Prof. Jakob Sumardjo itu saya lihat, lagi-lagi di jejaring facebook, saya langsung menghubungi Bode, yang kebetulan ketika itu sedang online via facebook. ‘Kapan buku itu terbit?’ tanyaku.
Bode yang karya-karya puisinya sering dimuat di media massa, seperti Jurnal Bogor, Pikiran Rakyat, Lampung Pos dan Bali Pos langsung menjawab, Februari Don, begitu ia menyapa akrab saya. Kebetulan, saya berada dalam sebuah komunitas Ruang 8 Jurnal Bogor, sebuah komunitas yang mengkhususkan diri menghidupkan jejaring komunitas seni budaya di Bogor, langsung menawarkan melaunching buku puisi yang dicetak 1.000 eksemplar itu di Kota Bogor.
Gayung bersambut. Bode yang ketika itu memang sedang merencanakan launching buku di luar kota kelahirannya, Tasikmalaya, mengiyakan tawaran itu. Tawar menawar tanggal pun dilakukan melalui yahoo messenger, seperti percakapan yang sudah-sudah. Akhirnya ditetapkanlah tanggal 3 April 2010 sebagai momentum perjalanan puitik buku puisi ‘Mendaki Kantung Matamu’ ke Kota Bogor, kota yang pada 2005 pernah dikunjungi bersama kawan-kawan di Teater 28. Dan Fakultas Sastra Universitas Pakuan (Unpak) Bogor ditunjuk sebagai tuan rumah launching buku puisinya.
2/ Bogor, 3 April 2010, Pukul 24.00 wib
3 April 2010, dini hari, handphone berdering. Ada pesan singkat dari Bode Riswandi, dia mengabarkan dirinya dan ketiga rekannya sudah ada di depan Kampus Pakuan. Ketika itu, Bogor sedang dilanda angin kencang dan sedikit hujan. Tak berselang lama, saya meluncur ke Kampus Pakuan, di mana dirinya dan ketiga rekannya sedang menikmati makan malam di salah satu warung makan. Gerimis masih saja menjejakkan kaki-kaki mungilnya. Kami pun bergegas meninggalkan kampus Pakuan menerobos gerimis yang hendak menjelma hujan.
3/ Siang itu di Fakultas Sastra Universitas Pakuan
Ruang Mashudi 2 lantai 3 Fakultas Sastra Unpak, siang itu tak seperti biasa. Banyak mahasiswa dan penikmat sastra Bogor berkumpul. Obrolan hal ihwal sastra dan perkembangan sastra di Bogor pun tak luput jadi bahan perbincangan singkat. Di deretan kursi paling depan, tampak Sasongko, Pri dan Dadan Suwarna, ketiganya adalah pengajar di Fakultas Sastra Unpak jurusan Sastra Indonesia.
Dadan Suwarna yang menjadi narasumber acara launching dan bedah buku kumpulan puisi Mendaki Kantung Matamu, karya Bode Riswandi langsung menyentak seisi ruangan dengan mengatakan, puisi tidaklah tercipta dari ruang kosong keadaan, melainkan ia pengalaman atau amatan penyairnya.
Selain itu, Dadan menilai jika intertualitas adalah gejala yang tak terbantahkan. Dalam buku puisi Mendaki Kantung Matamu ini, lanjut Dadan, ada tipikal atau gaya ungkap yang sering dipakai penyair Tasikmalaya, Acep Zamzam Noor, yang diketahui dan diakui Bode, sebagai guru sastranya. “Dalam diri Acep sendiri terdapat Abdul Hadi MW. Bahkan Rendra telah menelurkan banyak pemuja yang hidup pada era kepenyairan 1990-an atau 2000-an,” ujar Dadan.
Lain Dadan, lain Pri. Pengajar mata kuliah Stilistika ini menilai bahwa puisi yang ditawarkan Bode memiliki sebuah gerakan ke arah puncak pencapaian kepenyairan. “Di awal buku puisinya, kepolosan Bode masih terasa. Tapi mulai periode kepenulisan 2009, kematangan seorang Bode mulai jelas terlihat,” kata Pri. Pri merupakan salah satu dosen Sastra Unpak yang mulai dimunculkan Ruang 8 Jurnal Bogor dan Himpunan Mahasiswa Sastra Indonesia (Himsina) ke pentas sastra di Kota Bogor.
Bode pun angkat bicara terkait kesamaan karyanya dengan Acep. “Jujur, saya pengagum Acep. Tapi jika karya saya disamakan dengan Azan (panggilan akrab Acep Zamzam Noor), itu sah-sah saja,” jelas Bode. Dadan pun seolah melindungi penyair muda ini. Dengan tegas Dadan mengatakan, epigonitas kepada sang idola itu wajar. Selama, tak meniru 100 persen. “Intertekstualitas bukanlah plagiarisme. Semata-mata keterpesonaan akan sang tokoh idola pada diri penyairnya. Itulah intertekstualitas,” tegas Dadan.
Menurut Jakob Sumardjo, seperti yang ditulis di pengatar buku puisi tunggal pertamanya ini, kepenyairan Bode berkembang ke arah penyair sufistik. Sajak-sajaknya berpola hubungan timbal-balik antara dunia mikro dan makrokosmos. Bode pun terang-terangan menolak anggapan Prof. Jakob Sumardjo. Sebab, karya-karyanya jarang menyentuh hubungan antara manusia dengan sang pencipta.
4/ Dan Akhirnya
Seperti yang diutarakan Dadan Suwarna, menguji kepenyairan atau perpuisian adalah dalam rentang waktu kemudian. Akankah seseorang jadi penyair abadi, seperti sisa-sisa sentuhan pada Amir Hamzah, Chairil Anwar WS. Rendra dll. Dan akhirnya, buku puisi Mendaki Kantung Matamu karya Bode Riswandi telah mengantarnya terbang melintasi ruang, tempat dan waktu. Bode, seperti kata Acep, adalah salah satu dari sedikit penyair muda Jawa Barat yang potensial. Jika saja ia (Bode.red) terus menjaga intensitas, mentalitas dan integritas sebagai penyair. Begitu..
01 Oktober 2010
Menggagas Pertemuan Sastrawan Bogor
Kemarin, Sabtu 1/5, saya bertemu dengan seorang kawan di kampus IPB. Kawan saya itu, selalu gelisah dengan iklim sastra di kota hujan ini. Setiap kali bertemu, entah kebetulan atau dalam acara-acara sastra, kawan saya, yang bukan asli Bogor, tampak kebingunan memetakan sastra di Bogor. ‘Mau dibawa kemana ya sastra di Bogor’. Kerap kali, dia selalu bertanya seperti itu kepada saya.
Siang kemarin, kawan saya, yang juga salah satu penggerak sastra di kampusnya itu, tiba-tiba nyeletuk, mungkinkah ada kegiatan yang bisa mempertemukan sastrawan lintas generasi di Bogor.
Entah habis makan apa dia, tiba-tiba punya gagasan seperti itu. Ini satu wacana yang harus direalisasikan. Sebab, Bogor, kata Ace Sumanta, salah satu sastrawan kahot Bogor, memiliki tradisi sastra yang kuat. Mengingat, Bogor memiliki Fakultas Sastra di Universitas Pakuan. Ini satu nilai tambah, kata Ace, yang juga memiliki kegelisahan yang sama soal iklim sastra di Bogor.
Kawan saya, yang juga alumnus Fakultas Kehutanan IPB itu, terlihat antusias mendeskripsikan idenya. Terlihat, berkali-kali, dia membetulkan tempat duduknya. Siang kemarin, kami bertemu dalam satu ruang perlombaan IPB Art Competition (IAC), sebagai juri baca puisi. Dengan seksama, saya mendengarkan uraian kawan saya. Dalam hati, bertanya, dari mana dia mendapatkan ide cemerlang itu. Ini gagasan yang luar biasa.
Kita harus mulai memetakan sastrawan di Bogor kang, begitu katanya kepada saya. Padahal secara usia, dia jauh lebih tua daripada saya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menerima ajakan tersebut. Kawan saya, yang juga sebagai penggelola Wahana Telisik Sastra (WTS) itu, sedikit demi sedikit menyusun pelbagai agenda, salah satunya mempertemukan dirinya dengan Ace Sumanta.
Setelah meneguk segelas kopi, yang disediakan panitia, dia melanjutkan cerita gagasannya. Pertemuan sastrawan Bogor jangan sebatas silaturahmi antar sastrawan lintas generasi. Melainkan harus merumuskan satu gagasan memajukan sastra di Bogor. Paling tidak untuk mengimbangi dominasi sastra di Jakarta dan Bandung. Sebab, katanya, sastra Bogor kurang maksimal gerakannya. Itu betul, tegas saya.
Meski ini satu gagasan yang mengandung resiko, paling tidak, wacana pertemuan sastrawan Bogor lintas generasi patut mendapat perhatian bersama. Kawan saya itu, bernama Fatkurrahman Abdul Karim, lelaki kelahiran Banyuwangi, 22 Februari 1981, pekerja puisi, dan bergiat di Wahana Telisik Sastra Bogor. Semoga gagasan itu, tak sekedar wacana sepintas lalu. Begitu kawan.
Siang kemarin, kawan saya, yang juga salah satu penggerak sastra di kampusnya itu, tiba-tiba nyeletuk, mungkinkah ada kegiatan yang bisa mempertemukan sastrawan lintas generasi di Bogor.
Entah habis makan apa dia, tiba-tiba punya gagasan seperti itu. Ini satu wacana yang harus direalisasikan. Sebab, Bogor, kata Ace Sumanta, salah satu sastrawan kahot Bogor, memiliki tradisi sastra yang kuat. Mengingat, Bogor memiliki Fakultas Sastra di Universitas Pakuan. Ini satu nilai tambah, kata Ace, yang juga memiliki kegelisahan yang sama soal iklim sastra di Bogor.
Kawan saya, yang juga alumnus Fakultas Kehutanan IPB itu, terlihat antusias mendeskripsikan idenya. Terlihat, berkali-kali, dia membetulkan tempat duduknya. Siang kemarin, kami bertemu dalam satu ruang perlombaan IPB Art Competition (IAC), sebagai juri baca puisi. Dengan seksama, saya mendengarkan uraian kawan saya. Dalam hati, bertanya, dari mana dia mendapatkan ide cemerlang itu. Ini gagasan yang luar biasa.
Kita harus mulai memetakan sastrawan di Bogor kang, begitu katanya kepada saya. Padahal secara usia, dia jauh lebih tua daripada saya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menerima ajakan tersebut. Kawan saya, yang juga sebagai penggelola Wahana Telisik Sastra (WTS) itu, sedikit demi sedikit menyusun pelbagai agenda, salah satunya mempertemukan dirinya dengan Ace Sumanta.
Setelah meneguk segelas kopi, yang disediakan panitia, dia melanjutkan cerita gagasannya. Pertemuan sastrawan Bogor jangan sebatas silaturahmi antar sastrawan lintas generasi. Melainkan harus merumuskan satu gagasan memajukan sastra di Bogor. Paling tidak untuk mengimbangi dominasi sastra di Jakarta dan Bandung. Sebab, katanya, sastra Bogor kurang maksimal gerakannya. Itu betul, tegas saya.
Meski ini satu gagasan yang mengandung resiko, paling tidak, wacana pertemuan sastrawan Bogor lintas generasi patut mendapat perhatian bersama. Kawan saya itu, bernama Fatkurrahman Abdul Karim, lelaki kelahiran Banyuwangi, 22 Februari 1981, pekerja puisi, dan bergiat di Wahana Telisik Sastra Bogor. Semoga gagasan itu, tak sekedar wacana sepintas lalu. Begitu kawan.
Art Center
Kemarin, salah seorang kawan saya dari Solo, Jawa Tengah mengirim pesan lewat surat elektronik. Intinya, kawan saya itu hendak berkunjung ke Kota Bogor. Jelas, dia tak sekedar mampir makan atau menikmati kopi jelang sore. Dia seorang seniman yang memiliki pengaruh kuat di Solo. Dia kawan satu kampus dengan saya di Solo.
Ada beberapa point penting yang saya catat. Pertama, kedatangan ke Kota Bogor untuk menggelar pertunjukan teater. Kedua, menanyakan prosedur dan ketiga animo masyarakat serta keberadaan art center di kota ini. Pertanyaan pertama, jelas saya sambut dengan senang hati. Pasalnya, di tengah keringnya pementasan teater, kawan saya itu mampu menjadi oase di tengah keringnya iklim teater di Kota Bogor.
Pertanyaan kedua, sama seperti pertanyaan pertama, dapat saya jawab. Tapi kali ini sedikit beretorika. Tak enak jika harus berterus terang, jika prosedur di kota ini, tak sama dengan di Solo, tempat dulu kami menggelar pelbagai pementasan teater. Saya jawab : “Sudah, kamu tenang saja. Masalah perijinan, akan saya kerjakan dengan kawan-kawan di Bogor”. Nah, untuk pertanyaan ketiga, mengenai animo masyarakat dan keberadaan art center, jujur sulit untuk saya jawab.
Selain kering pementasan teater, Kota Bogor juga minim apresiasi dari masyarakat. Ini masih ditambah dengan ketakadaannya art center, pusat berkumpulnya seniman dari pelbagai disiplin ilmu untuk bertukar pikiran. Lewat surat elektronik pula, kawan saya, yang baru pada tahun 2005 mengenal internet, mengirim icon orang tertawa terbahak-bahak. Saya mengerti betul maksud kirimannya itu pada saya.
Memang, jika dibandingkan dengan Solo, terutama masalah art center, Bogor belum ada apa-apanya. Apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan pun masih minim. Dengan penuh percaya diri, saya sampaikan kepada kawan saya itu bahwa art center di Bogor akan segera berdiri. Anehnya, kawan saya itu malah mengirim balasannya lewat pesan singkat, bunyinya, “Tingkatkan dulu animo masyarakat, lalu cerdaskan penontonnya, baru bermimpi punya art center”. Kata kawan saya itu, percuma punya art center semegah apapun, jika animo dan apresiasinya minim.
Ada beberapa point penting yang saya catat. Pertama, kedatangan ke Kota Bogor untuk menggelar pertunjukan teater. Kedua, menanyakan prosedur dan ketiga animo masyarakat serta keberadaan art center di kota ini. Pertanyaan pertama, jelas saya sambut dengan senang hati. Pasalnya, di tengah keringnya pementasan teater, kawan saya itu mampu menjadi oase di tengah keringnya iklim teater di Kota Bogor.
Pertanyaan kedua, sama seperti pertanyaan pertama, dapat saya jawab. Tapi kali ini sedikit beretorika. Tak enak jika harus berterus terang, jika prosedur di kota ini, tak sama dengan di Solo, tempat dulu kami menggelar pelbagai pementasan teater. Saya jawab : “Sudah, kamu tenang saja. Masalah perijinan, akan saya kerjakan dengan kawan-kawan di Bogor”. Nah, untuk pertanyaan ketiga, mengenai animo masyarakat dan keberadaan art center, jujur sulit untuk saya jawab.
Selain kering pementasan teater, Kota Bogor juga minim apresiasi dari masyarakat. Ini masih ditambah dengan ketakadaannya art center, pusat berkumpulnya seniman dari pelbagai disiplin ilmu untuk bertukar pikiran. Lewat surat elektronik pula, kawan saya, yang baru pada tahun 2005 mengenal internet, mengirim icon orang tertawa terbahak-bahak. Saya mengerti betul maksud kirimannya itu pada saya.
Memang, jika dibandingkan dengan Solo, terutama masalah art center, Bogor belum ada apa-apanya. Apresiasi masyarakat terhadap pertunjukan pun masih minim. Dengan penuh percaya diri, saya sampaikan kepada kawan saya itu bahwa art center di Bogor akan segera berdiri. Anehnya, kawan saya itu malah mengirim balasannya lewat pesan singkat, bunyinya, “Tingkatkan dulu animo masyarakat, lalu cerdaskan penontonnya, baru bermimpi punya art center”. Kata kawan saya itu, percuma punya art center semegah apapun, jika animo dan apresiasinya minim.
Menelisik Elan Vital Hanna
Di helai daun kangkung aku menulis lembar surat ini.
Bersama aroma darah yang patut dibela
Darah keluarga
(Kepada Adik, Hanna Fransisca)
Kemunculan Hanna Fransisca (HF) di percaturan kesusasteraan Indonesia memperkokoh posisi sastra hibrida. Kumpulan puisi ‘Konde Penyair Han’ (KPH), karya HF disebut Sapardi Djoko Damono (SDD) sebagai salah satu upaya mempertontonkan bahwa sastra hibrida sudah menjadi bagian dari proses kreatif masyarakat. Dan Hanna, lewat kumpulan puisi tersebut membuktikan itu.
Buku terbitan KataKita setebal 141 halaman dengan 66 judul itu makin mendedahkan HF, bahwa etnis Tionghoa patut diperhatikan. Perempuan kelahiran Kota Seribu Kuil, Singkawang, Kalimantan Barat, 31 Mei 1979 itu seakan-akan meminta para pembaca kumpulan puisinya ikut terlibat merasakan perjalanan HF di kota kelahirannya, Singkawang.
Keahlian HF mendeskripsikan kondisi geografis Singkawang, mengingatkan kita kepada penyair Tasikmalaya, Jawa Barat, Acep Zamzam Noor. HF begitu kuat dalam hal ini. Selain itu, HF, dalam mayaoritas puisinya, tak bisa melepaskan diri dari persoalan domestik kaum perempuan, seperti memasak alias kuliner. SDD dan penyair Joko Pinurbo, yang ditunjuk sebagai pembicara diskusi peluncuran buku KPH di Gothe Haus, Gothe Institute, Jakarta pun mengamini hal itu.
Keduanya menilai, HF adalah penyair yang mampu menghadirkan sastra kuliner dengan kejam. Berkali-kali, dalam diskusi yang dimoderatori esais Agus R. Sarjono itu, berkata, HF cukup berhasil membawa pembaca masuk ke dunia yang dilukiskannya. Dunia kuliner yang tak melulu sedap dan lezat.
Menurut SDD, usai diskusi, puisi-puisi HF menyadarkan dirinya bahwa masyarakat Indonesia ini berbagai-bagai, sebagian bahkan hibrid. Dan sastra kita, kata SDD, memang hibrid, itu sebabnya sangat sehat dan jauh lebih kuat dari keadaannya sebelum menjalani penyilangan.
Sementara itu, Joko Pinurbo, seperti yang tertulis dalam pengantar yang tertera dalam agenda acara mengaku tergagap ketika kali pertama melihat warna baju buku tersebut. “Buku ini benar-benar merah,” kata Joko Pinurbo. Bahkan sampul novel karya Iwan Simatupang, Merahnya Merah (1968) warnanya tak sekuat baju HF. Merah menurut etnis Tionghoa membawa keberkahan. Ini simbolik.
Menurut Joko Pinurbo yang ditemui usai diskusi mengatakan, masalah jati diri itu tak sesederhana yang dibayangkan. Persoalannya acapkali pelik, sensitif dan sarat trauma etnis. Dan sekali lagi, HF dengan terang-terangan membuktikan bahwa peranakan etnis Tionghoa di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban bangsa ini. Meski, sejarah kelam pernah HF rasakan. Tentu saja, trauma yang berkepanjangan.
Sejak kecil, saya menyukai kesendirian. Memandang rumputan, memperhatikan capung meluruskan sayap seperti pesawat kecil yang meluncur ke angkasa, juga belalang yang memiliki kaki panjang untuk melompat. Saya juga menyukai warna kupu-kupu, dan seringkali membayangkan bisa terbang dengan sayap warna-warni. Begitu tulis HF dalam kata pengantar buku kumpulan puisi perdananya itu. Begitu.
Bersama aroma darah yang patut dibela
Darah keluarga
(Kepada Adik, Hanna Fransisca)
Kemunculan Hanna Fransisca (HF) di percaturan kesusasteraan Indonesia memperkokoh posisi sastra hibrida. Kumpulan puisi ‘Konde Penyair Han’ (KPH), karya HF disebut Sapardi Djoko Damono (SDD) sebagai salah satu upaya mempertontonkan bahwa sastra hibrida sudah menjadi bagian dari proses kreatif masyarakat. Dan Hanna, lewat kumpulan puisi tersebut membuktikan itu.
Buku terbitan KataKita setebal 141 halaman dengan 66 judul itu makin mendedahkan HF, bahwa etnis Tionghoa patut diperhatikan. Perempuan kelahiran Kota Seribu Kuil, Singkawang, Kalimantan Barat, 31 Mei 1979 itu seakan-akan meminta para pembaca kumpulan puisinya ikut terlibat merasakan perjalanan HF di kota kelahirannya, Singkawang.
Keahlian HF mendeskripsikan kondisi geografis Singkawang, mengingatkan kita kepada penyair Tasikmalaya, Jawa Barat, Acep Zamzam Noor. HF begitu kuat dalam hal ini. Selain itu, HF, dalam mayaoritas puisinya, tak bisa melepaskan diri dari persoalan domestik kaum perempuan, seperti memasak alias kuliner. SDD dan penyair Joko Pinurbo, yang ditunjuk sebagai pembicara diskusi peluncuran buku KPH di Gothe Haus, Gothe Institute, Jakarta pun mengamini hal itu.
Keduanya menilai, HF adalah penyair yang mampu menghadirkan sastra kuliner dengan kejam. Berkali-kali, dalam diskusi yang dimoderatori esais Agus R. Sarjono itu, berkata, HF cukup berhasil membawa pembaca masuk ke dunia yang dilukiskannya. Dunia kuliner yang tak melulu sedap dan lezat.
Menurut SDD, usai diskusi, puisi-puisi HF menyadarkan dirinya bahwa masyarakat Indonesia ini berbagai-bagai, sebagian bahkan hibrid. Dan sastra kita, kata SDD, memang hibrid, itu sebabnya sangat sehat dan jauh lebih kuat dari keadaannya sebelum menjalani penyilangan.
Sementara itu, Joko Pinurbo, seperti yang tertulis dalam pengantar yang tertera dalam agenda acara mengaku tergagap ketika kali pertama melihat warna baju buku tersebut. “Buku ini benar-benar merah,” kata Joko Pinurbo. Bahkan sampul novel karya Iwan Simatupang, Merahnya Merah (1968) warnanya tak sekuat baju HF. Merah menurut etnis Tionghoa membawa keberkahan. Ini simbolik.
Menurut Joko Pinurbo yang ditemui usai diskusi mengatakan, masalah jati diri itu tak sesederhana yang dibayangkan. Persoalannya acapkali pelik, sensitif dan sarat trauma etnis. Dan sekali lagi, HF dengan terang-terangan membuktikan bahwa peranakan etnis Tionghoa di Indonesia tak bisa dilepaskan dari sejarah peradaban bangsa ini. Meski, sejarah kelam pernah HF rasakan. Tentu saja, trauma yang berkepanjangan.
Sejak kecil, saya menyukai kesendirian. Memandang rumputan, memperhatikan capung meluruskan sayap seperti pesawat kecil yang meluncur ke angkasa, juga belalang yang memiliki kaki panjang untuk melompat. Saya juga menyukai warna kupu-kupu, dan seringkali membayangkan bisa terbang dengan sayap warna-warni. Begitu tulis HF dalam kata pengantar buku kumpulan puisi perdananya itu. Begitu.
Sastra Poskolonial Indonesia, Relevankah Diperbincangkan?
Antonio Gramsci (22 January 1891 – 27 April 1937) filsuf Italia, dan juga salah seorang penulis besar di masanya pernah menulis tentang hegemoni – salah satu tanda kemunculan poskolonialisme – dan inilah yang melahirkan konsep Gramscian. Hegemoni sendiri menurut Gramsci merupakan sebuah relasi kuasa di mana terjadi dominasi dan subordinasi, hingga tingkat bahasa, yang sejak awal menjadi ruh perbincangan para poskolonialis.
Isu di atas membentuk satu pengertian yang kini menjadi kelumrahan intelektual. Menurut Radhar Panca Dahana dalam makalah yang disampaikan dalam diskusi sastra yang diselenggarakan oleh Arena Studi dan Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, di Lembang belum lama ini, perjalanan dan orientasi sastra modern – jika tak dikendalikan – akan dipengaruhi secara kuat oleh kerja-kerja politik. Kerja-kerja yang menempatkan hegemoni sebagai perangkat utama keberadaannya, mekanisme yang mengalirkan kepentingannya.
Sastra modern Indonesia banyak dianggap sebagai hasil warisan dari politik etis pemerintah kolonial Belanda melalui badan bentukannya, seperti penerbit Balai Pustaka. Dan Radhar meminta pemakluman atas sejarah waris itu. “Sesama pekerja sastra, alangkah baiknya memafhumi bila dalam Balai Pustaka, banyak terdapat kepentingan-kepentingan kolonial. Mulai dari ideology, politik, ekonomi hingga budaya,” kata Radhar.
Dalam Cinta di Zaman Kolonial, Ras dan Roman dalam sebuah Novel Awal di Indonesia karya Paul Tickell, dibahas novel Matahariah karya Mas Maarco Kartodikromo. Karya tersebut mengangkat pemikiran multikulturalisme. Itu disebabkan teksnya ditulis dalam teks heteroglossic, yakni percampuran aneka bahasa, seperti Melayu, Belanda dan Jawa. Tickell menunjukkan bahwa Matahariah memiliki tema hibriditas antara gagasan-gagasan barat dan cara berfikir tokoh-tokoh pribumi yang mengungkapkan peranan ras dan gender masa itu.
Selain cerita percintaan, sastra poskolonial Indonesia juga diwarnai dengan konsep pahlawan, sekaligus wacana colonial tentang ras. Ini bisa kita lihat dalam novel Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer yang dibahas Henk Maier. Dalam esainya yang berjudul Si Tukang Dobrak dan Pintu yang Keropos, Maier mengatakan, Bumi Manusia merupakan dongeng yang kuat sebagai titik tolak peranan pahlawan kebudayaan sekaligus simbol si tokoh, Minke, dalam peranannya melawan arus kolonialisme Belanda dan otoriter rezim Orde Baru.
Menurut Maier, Pram termasuk para pendobrak wacana kolonialisme, mengisyaratkan kebebasan gelisah tetapi menyala-nyala. Akan tetapi, ia juga mengkritik pemikiran Pram yang ditumpahkan dalam karya-karyanya, bahwa Pram hanya menceritakan sebuah dongeng dari pengalamannya, yang akhirnya terlalu fokus pada estetikisme dan otonomi serta keinginan menampung koherensi. Dan masih banyak lagi karya-karya yang mendedahkan sastra poskolonial Indonesia, diantaranya Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang, dan Belenggu. Karya-karya tersebut juga bisa dijadikan penanda sastra pascakolonialisme Indonesia.
Relevankah mengungkit sastra poskolonial Indonesia di tengah dominasi sastra modern – jika boleh disebut demikian – sebab hingga kini, kita acapkali disuguhi pelbagai macam karya sastra yang justeru mengungkit-ungkit kekelaman sejarah bangsa ini. Jadi, masih relevankah?
Isu di atas membentuk satu pengertian yang kini menjadi kelumrahan intelektual. Menurut Radhar Panca Dahana dalam makalah yang disampaikan dalam diskusi sastra yang diselenggarakan oleh Arena Studi dan Apresiasi Sastra (ASAS) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, di Lembang belum lama ini, perjalanan dan orientasi sastra modern – jika tak dikendalikan – akan dipengaruhi secara kuat oleh kerja-kerja politik. Kerja-kerja yang menempatkan hegemoni sebagai perangkat utama keberadaannya, mekanisme yang mengalirkan kepentingannya.
Sastra modern Indonesia banyak dianggap sebagai hasil warisan dari politik etis pemerintah kolonial Belanda melalui badan bentukannya, seperti penerbit Balai Pustaka. Dan Radhar meminta pemakluman atas sejarah waris itu. “Sesama pekerja sastra, alangkah baiknya memafhumi bila dalam Balai Pustaka, banyak terdapat kepentingan-kepentingan kolonial. Mulai dari ideology, politik, ekonomi hingga budaya,” kata Radhar.
Dalam Cinta di Zaman Kolonial, Ras dan Roman dalam sebuah Novel Awal di Indonesia karya Paul Tickell, dibahas novel Matahariah karya Mas Maarco Kartodikromo. Karya tersebut mengangkat pemikiran multikulturalisme. Itu disebabkan teksnya ditulis dalam teks heteroglossic, yakni percampuran aneka bahasa, seperti Melayu, Belanda dan Jawa. Tickell menunjukkan bahwa Matahariah memiliki tema hibriditas antara gagasan-gagasan barat dan cara berfikir tokoh-tokoh pribumi yang mengungkapkan peranan ras dan gender masa itu.
Selain cerita percintaan, sastra poskolonial Indonesia juga diwarnai dengan konsep pahlawan, sekaligus wacana colonial tentang ras. Ini bisa kita lihat dalam novel Bumi Manusia, karya Pramoedya Ananta Toer yang dibahas Henk Maier. Dalam esainya yang berjudul Si Tukang Dobrak dan Pintu yang Keropos, Maier mengatakan, Bumi Manusia merupakan dongeng yang kuat sebagai titik tolak peranan pahlawan kebudayaan sekaligus simbol si tokoh, Minke, dalam peranannya melawan arus kolonialisme Belanda dan otoriter rezim Orde Baru.
Menurut Maier, Pram termasuk para pendobrak wacana kolonialisme, mengisyaratkan kebebasan gelisah tetapi menyala-nyala. Akan tetapi, ia juga mengkritik pemikiran Pram yang ditumpahkan dalam karya-karyanya, bahwa Pram hanya menceritakan sebuah dongeng dari pengalamannya, yang akhirnya terlalu fokus pada estetikisme dan otonomi serta keinginan menampung koherensi. Dan masih banyak lagi karya-karya yang mendedahkan sastra poskolonial Indonesia, diantaranya Siti Nurbaya, Salah Asuhan, Layar Terkembang, dan Belenggu. Karya-karya tersebut juga bisa dijadikan penanda sastra pascakolonialisme Indonesia.
Relevankah mengungkit sastra poskolonial Indonesia di tengah dominasi sastra modern – jika boleh disebut demikian – sebab hingga kini, kita acapkali disuguhi pelbagai macam karya sastra yang justeru mengungkit-ungkit kekelaman sejarah bangsa ini. Jadi, masih relevankah?
Napak Tilas Sastra Bogor
Selera bersastra Pemerintah Hindia Belanda pada masa penjajahan di Bogor, sekitar tahun 1752 cukup tinggi. Daerah peristirahatan di sisi selatan Ibukota Jakarta pun dinamai Buitenzorg – yang dalam bahasa Belanda – artinya alam ketenangan. Mengapa Buitenzorg? Sebab, pada masa itu, banyak pelancong luar negeri yang merasa nyaman dan tenang tinggal di daerah yang akhirnya bernama Bogor itu.
Mengapa saya bilang selera bersastra Pemerintah Hindia Belanda cukup tinggi? Tak lain dan tak bukan, nama Buitenzorg sungguh puitis. Alam ketenangan. Ya, inilah salah satu alasan saya berkata demikian, meski masih banyak alasan yang tak mungkin disebutkan satu per satu di rubrik ini. Dan saya pikir, alasan itu bisa diterima bersama. Alam ketenganan. Seperti sebuah judul puisi yang sengaja maupun tidak sengaja diberikan Pemerintah Hindia Belanda.
Kecurigaan asal memberikan nama pun luruh ketika saya mendengar cerita dari pelbagai sumber hal ihwal Bogor masa lalu – yang tentunya jauh dari kemacetan, kesumpekan, bising dan panas. Bogor – kata banyak orang – adalah kota dalam taman. Tentunya ini tak terlepas dari keberadaan Kebun Raya Bogor di pusat Kota Bogor. Selain itu – hingga kini – pohon-pohon berusia tua masih banyak berdiri di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Sudirman. Identitas Buitenzorg makin kuat. Tapi itu dulu. Kini Bogor, khususnya Kota Bogor, jauh dari kesan Buitenzorg itu.
Bogor dengan pelbagai aktivitas masyarakat urbannya telah menyulap dirinya sendiri. Alam ketenangan yang bagi banyak penulis (cerpen, puisi, novel dan prosa) sering dijadikan tema tulisan berubah menjadi alam kesemerawutan. Dari ketenangan inilah, penulis, budayawan dan negarawan, macam Hatta, Sitor Situmorang, Taufik Ismail, Hamsad Rangkuti, Pamusuk Eneste, Maman S. Mahayana dan Hasan Aspahani lekat dengan alam di Bogor. Meski nama-nama besar itu bukan asli orang Bogor, paling tidak, ada sejarah yang menuliskan bahwa nama-nama besar itu pernah menjejakkan kaki dan kreativitasnya di Bogor – tentunya dengan ketenangan yang disajikan.
Bahkan menurut pengakuan Sitor Situmorang dalam buku catatan kepenyairannya, Bogor merupakan salah satu kota pelarian yang nyaman. Tentu saja, pelarian mencari ide untuk berkarya, khususnya karya sastra, puisi. Bagi Sitor, Bogor menghipnotis dirinya untuk terus menulis. Entah bagi yang lain, tulisnya. Bagi saya, ini adalah kesepakatan bersama, bahwa Bogor merupakan satu daerah Selatan Jakarta yang nyaman untuk berkarya, terutama karya sastra.
Berangkat dari itulah, Ruang 8 Jurnal Bogor dan Wahana Tesilik Seni dan Sastra berencana menggelar hajatan bersama bertajuk Festival Sastra Bogor 2010. Penamaan itu bukan dimaksudkan sebagai upaya gagah-gagahan dan mencari sensasi, melainkan sebagai satu bentuk usaha kelahiran iklim bersastra di Bogor. Jika menilik sejarah, warga Bogor patut berbangga diri. Pasalnya, banyak penulis besar Indonesia menjejakkan karyanya di Bogor.
Mengapa saya memberi judul tulisan ini Napak Tilas Sastra Bogor? karena menurut saya, ada sebuah keterputusan sejarah yang mesti segera dicarikan solusinya. Keterputusan itu, tak terlepas dari adanya Fakultas Sastra Universitas Pakuan (Unpak) Bogor, yang hingga kini belum nyata kontribusinya bagi kemajuan sastra di Bogor. Karya-karya – baik puisi, cerpen dan novel – yang ditelurkan mahasiswa sastra Pakuan pun tak banyak dimuat media lokal maupun nasional (jika ukurannya dilihat dari seberapa seringkah karya dimuat di media).
Festival Sastra Bogor 2010 adalah sebagian kecil upaya komunitas sastra Bogor menggeliatkan iklim bersastra di Bogor.
Mengapa saya bilang selera bersastra Pemerintah Hindia Belanda cukup tinggi? Tak lain dan tak bukan, nama Buitenzorg sungguh puitis. Alam ketenangan. Ya, inilah salah satu alasan saya berkata demikian, meski masih banyak alasan yang tak mungkin disebutkan satu per satu di rubrik ini. Dan saya pikir, alasan itu bisa diterima bersama. Alam ketenganan. Seperti sebuah judul puisi yang sengaja maupun tidak sengaja diberikan Pemerintah Hindia Belanda.
Kecurigaan asal memberikan nama pun luruh ketika saya mendengar cerita dari pelbagai sumber hal ihwal Bogor masa lalu – yang tentunya jauh dari kemacetan, kesumpekan, bising dan panas. Bogor – kata banyak orang – adalah kota dalam taman. Tentunya ini tak terlepas dari keberadaan Kebun Raya Bogor di pusat Kota Bogor. Selain itu – hingga kini – pohon-pohon berusia tua masih banyak berdiri di sepanjang Jalan Ahmad Yani hingga Sudirman. Identitas Buitenzorg makin kuat. Tapi itu dulu. Kini Bogor, khususnya Kota Bogor, jauh dari kesan Buitenzorg itu.
Bogor dengan pelbagai aktivitas masyarakat urbannya telah menyulap dirinya sendiri. Alam ketenangan yang bagi banyak penulis (cerpen, puisi, novel dan prosa) sering dijadikan tema tulisan berubah menjadi alam kesemerawutan. Dari ketenangan inilah, penulis, budayawan dan negarawan, macam Hatta, Sitor Situmorang, Taufik Ismail, Hamsad Rangkuti, Pamusuk Eneste, Maman S. Mahayana dan Hasan Aspahani lekat dengan alam di Bogor. Meski nama-nama besar itu bukan asli orang Bogor, paling tidak, ada sejarah yang menuliskan bahwa nama-nama besar itu pernah menjejakkan kaki dan kreativitasnya di Bogor – tentunya dengan ketenangan yang disajikan.
Bahkan menurut pengakuan Sitor Situmorang dalam buku catatan kepenyairannya, Bogor merupakan salah satu kota pelarian yang nyaman. Tentu saja, pelarian mencari ide untuk berkarya, khususnya karya sastra, puisi. Bagi Sitor, Bogor menghipnotis dirinya untuk terus menulis. Entah bagi yang lain, tulisnya. Bagi saya, ini adalah kesepakatan bersama, bahwa Bogor merupakan satu daerah Selatan Jakarta yang nyaman untuk berkarya, terutama karya sastra.
Berangkat dari itulah, Ruang 8 Jurnal Bogor dan Wahana Tesilik Seni dan Sastra berencana menggelar hajatan bersama bertajuk Festival Sastra Bogor 2010. Penamaan itu bukan dimaksudkan sebagai upaya gagah-gagahan dan mencari sensasi, melainkan sebagai satu bentuk usaha kelahiran iklim bersastra di Bogor. Jika menilik sejarah, warga Bogor patut berbangga diri. Pasalnya, banyak penulis besar Indonesia menjejakkan karyanya di Bogor.
Mengapa saya memberi judul tulisan ini Napak Tilas Sastra Bogor? karena menurut saya, ada sebuah keterputusan sejarah yang mesti segera dicarikan solusinya. Keterputusan itu, tak terlepas dari adanya Fakultas Sastra Universitas Pakuan (Unpak) Bogor, yang hingga kini belum nyata kontribusinya bagi kemajuan sastra di Bogor. Karya-karya – baik puisi, cerpen dan novel – yang ditelurkan mahasiswa sastra Pakuan pun tak banyak dimuat media lokal maupun nasional (jika ukurannya dilihat dari seberapa seringkah karya dimuat di media).
Festival Sastra Bogor 2010 adalah sebagian kecil upaya komunitas sastra Bogor menggeliatkan iklim bersastra di Bogor.
Mari Bergoyang
Pekan depan, Senin-Selasa (9-10/8), sastra Bogor akan bergoyang. Kenapa? Karena, pada tanggal tersebut, Kota Bogor – khususnya di Universitas Pakuan Bogor – akan digelar hajatan besar bertajuk Festival Sastra Bogor 2010. Puluhan sastrawan dan kritikus sastra, seperti Taufik Ismail, Maman S. Mahayana, Ahmadun Yosi Herfanda, Soni Farid Maulana, Jajang C. Noer, Hanna Fransiska, Dharmadi, Khrisna Pabichara dan Cunong N. Suraja bakal hadir dan memeriahkan acara persembahan ruang 8 Jurnal Bogor, Wahana Telisik Seni dan Sastra (WTS) dan Fakultas Sastra Unpak.
Acara tersebut akan diisi dengan diskusi dan apresiasi. Untuk diskusi, tema yang diusung adalah memetakan sastra Bogor di tengah-tengah dominasi dua kanon sastra, Jakarta dan Bandung. Di hari pertama, diskusi akan membahas seputar perkembangan sastra di kampus dan sekolah. Harapan diskusi tersebut untuk mencari tahu sejauhmana pengajaran sastra di kampus sastra dan sekolah-sekolah di Bogor. Pembicara untuk mengulas masalah tersebut adalah, Jafar Fakhrurozi, guru Bahasa Indonesia SMA Dwiwarna, Parung, Kabupaten Bogor dan Fatkurrahman Abdul Karim, salah seorang penggerak sastra di kampus IPB.
Diharapkan, kedua pembicara tersebut mampu membongkar tabir hitam di dunia pendidikan, khususnya di Bogor. Mengapa? Karena, hingga sekarang, Bogor belum mampu melahirkan sastrawan atau kritikus sastra yang kuat dan cukup disegani di jagat sastra Indonesia (sejenak kita lupakan nama besar Maman S. Mahayana dan Cunong N. Suraja). Semoga, dua pembicara yang bisa dibilang masih muda tersebut mampu melakukan penelisikan sehingga menemukan satu formula memajukan iklim bersastra di Bogor. Di hari pertama ini juga, akan menghadirkan beberapa pelajar dan mahasiswa untuk tampil dihadapan peserta Festival Sastra Bogor 2010. Hari pertama akan dimulai pada pukul 14.00 wib.
Di hari kedua – yang akan dimulai pukul 09.00 wib akan menghadirkan tiga pembicara yang saat ini cukup diperhitungkan di jagat sastra Indonesia, Maman S. Mahayan, Cunong N. Suraja dan Khrisna Pabichara. Ketiganya akan membahas sejarah dan perkembangan sastra di Bogor. Ini akan menarik. Sebab, peserta Festival Sastra Bogor 2010 akan mendapatkan banyak wawasan seputar sejarah sastra di Bogor yang selama ini – bagi sebagian besar generasi muda – kehilangan tempat di kalangan sebagian generasi muda Bogor.
Usai diskusi, peserta akan dimanjakan dengan launching novel Memed Gunawan, salah seorang mantan pegawai Departemen Pertanian yang kini tinggal dan menetap di Bogor. dan pembedahnya adalah, Taufik Ismail dan Ahmadun Yosi Herfanda. Tampil untuk memeriahkan acara, pembacaan fragmen novel Memed oleh Susy Ayu, dan Asrizal Nur. Di akhir acara, peserta akan dimanjakan dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair, sebut saja Khrisna Pabichara, Handoko F. Zainsam, Fatkurrahman Abdul Karim, Kurniawan Junaedhi, Hanna Fransiska, Jamal D. Rahman, Dharmadi dan penampilan sejumlah penyair Bogor dari pelbagai komunitas.
Jadi, mari ikut bergoyang dan menjadi saksi kebangkitan sastra di Bogor. Yuuuukkkk Maaaaaang….Digoyang.
Acara tersebut akan diisi dengan diskusi dan apresiasi. Untuk diskusi, tema yang diusung adalah memetakan sastra Bogor di tengah-tengah dominasi dua kanon sastra, Jakarta dan Bandung. Di hari pertama, diskusi akan membahas seputar perkembangan sastra di kampus dan sekolah. Harapan diskusi tersebut untuk mencari tahu sejauhmana pengajaran sastra di kampus sastra dan sekolah-sekolah di Bogor. Pembicara untuk mengulas masalah tersebut adalah, Jafar Fakhrurozi, guru Bahasa Indonesia SMA Dwiwarna, Parung, Kabupaten Bogor dan Fatkurrahman Abdul Karim, salah seorang penggerak sastra di kampus IPB.
Diharapkan, kedua pembicara tersebut mampu membongkar tabir hitam di dunia pendidikan, khususnya di Bogor. Mengapa? Karena, hingga sekarang, Bogor belum mampu melahirkan sastrawan atau kritikus sastra yang kuat dan cukup disegani di jagat sastra Indonesia (sejenak kita lupakan nama besar Maman S. Mahayana dan Cunong N. Suraja). Semoga, dua pembicara yang bisa dibilang masih muda tersebut mampu melakukan penelisikan sehingga menemukan satu formula memajukan iklim bersastra di Bogor. Di hari pertama ini juga, akan menghadirkan beberapa pelajar dan mahasiswa untuk tampil dihadapan peserta Festival Sastra Bogor 2010. Hari pertama akan dimulai pada pukul 14.00 wib.
Di hari kedua – yang akan dimulai pukul 09.00 wib akan menghadirkan tiga pembicara yang saat ini cukup diperhitungkan di jagat sastra Indonesia, Maman S. Mahayan, Cunong N. Suraja dan Khrisna Pabichara. Ketiganya akan membahas sejarah dan perkembangan sastra di Bogor. Ini akan menarik. Sebab, peserta Festival Sastra Bogor 2010 akan mendapatkan banyak wawasan seputar sejarah sastra di Bogor yang selama ini – bagi sebagian besar generasi muda – kehilangan tempat di kalangan sebagian generasi muda Bogor.
Usai diskusi, peserta akan dimanjakan dengan launching novel Memed Gunawan, salah seorang mantan pegawai Departemen Pertanian yang kini tinggal dan menetap di Bogor. dan pembedahnya adalah, Taufik Ismail dan Ahmadun Yosi Herfanda. Tampil untuk memeriahkan acara, pembacaan fragmen novel Memed oleh Susy Ayu, dan Asrizal Nur. Di akhir acara, peserta akan dimanjakan dengan pembacaan puisi oleh sejumlah penyair, sebut saja Khrisna Pabichara, Handoko F. Zainsam, Fatkurrahman Abdul Karim, Kurniawan Junaedhi, Hanna Fransiska, Jamal D. Rahman, Dharmadi dan penampilan sejumlah penyair Bogor dari pelbagai komunitas.
Jadi, mari ikut bergoyang dan menjadi saksi kebangkitan sastra di Bogor. Yuuuukkkk Maaaaaang….Digoyang.
Antologi Cerpen dan Sebuah Novel
Buku cerita 9 Dari Nadira, karya Leila S Chudori dikatakan Maman S. Mahayana sebagai antologi cerpen dan sekaligus sebagai novel. Mengapa demikian? Karena, struktur atau kerangka kerja yang digunakan Leila, mendekati konsep cerpen dan novel. “Ini buku antologi cerpen sekaligus sebuah novel,” kata Maman dihadapan ratusan peserta Bedah Buku Sastra yang diselenggarakan Himpunan Mahasiswa (Hima) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (Diksastrasia) FKIP Bahasa Indonesia, Universitas Pakuan (Unpak), di Ruang Serbaguna FKIP, kemarin.
Cerita yang dibangun, kata Maman – kritikus sastra yang baru saja pulang dari Korea – lekat dengan konsep novel. Fragmen-fragmen yang ada saling kait mengait. Seperti sebuah novel bukan? Nah, itulah yang menyebabkan Maman berstatmen seperti itu. Dan apa yang dikerjakan Leila melalui bukunya ini merupakan pembaruan di ranah sastra Indonesia, khususnya cerpen dan novel.
Tentu, Maman tak main-main akan hal ini. Dan sebagai seorang kritikus sastra, Maman harus berani mempertanggungjawabkannya dihadapan publik tentang statmennya tersebut. Dengan kata lain, kebaruan yang coba diusung Leila S. Chudori memang original. “9 Dari Nadira ini buku cerita yang luar biasa. Fragmennya seperti mata rantai. Itu sebabnya, saya berani katakana, ini antologi cerpen dan juga sebuah novel,” tegas Maman.
Meski Maman berkata seperti itu, Leila S. Chudori yang duduk sebagai pembicara menolak jika buku 9 Dari Nadira dikatakan sebagai antologi cerpen dan juga sebuah novel. “Saya tetap menyebut buku ini sebuah cerita. Itu sebabnya, saya tidak menuliskan di sampul buku sebagai antologi cerpen atau novel,” ujar Leila.
Kendati demikian, Leila tetap membuka diri ketika Maman menyebut bukunya sebagai antologi cerpen yang novel dan sebuah novel yang juga antologi cerpen. “Saya tak ingin mengelompokkan karya ke dalam pembagian-pembagian tertentu. Sebagai penulis, tugas saya ya, menulis. Dan pengelompokan itu adalah tugas kritikus sastra,” katanya.
Sementara itu, penyair dan esais, Jakarta Handoko F. Zainsam, menolak jika buku 9 Dari Nadira adalah pembaruan. Menurutnya, jauh sebelum Leila meluncurkan karyanya, sastra Indonesia telah memiliki cerita bersambung (cerbung). Dan Handoko menyebut buku Leila tersebut sebagai cerita bersambung. Bukan antologi cerpen yang juga sebuah novel, begitu sebaliknya.
Selain membedah buku Leila S. Chudori, buku antologi puisi penyair perempuan pendatang baru, Susy Ayu berjudul Rahim Kata-kata juga dibedah. Dosen Perbandingan Budaya FKIP Bahasa Inggris Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, Cunong N. Suraja dan esais serta penyair, Jakarta Handoko F. Zainsam berkesempatan membedah buku tersebut.
Cerita yang dibangun, kata Maman – kritikus sastra yang baru saja pulang dari Korea – lekat dengan konsep novel. Fragmen-fragmen yang ada saling kait mengait. Seperti sebuah novel bukan? Nah, itulah yang menyebabkan Maman berstatmen seperti itu. Dan apa yang dikerjakan Leila melalui bukunya ini merupakan pembaruan di ranah sastra Indonesia, khususnya cerpen dan novel.
Tentu, Maman tak main-main akan hal ini. Dan sebagai seorang kritikus sastra, Maman harus berani mempertanggungjawabkannya dihadapan publik tentang statmennya tersebut. Dengan kata lain, kebaruan yang coba diusung Leila S. Chudori memang original. “9 Dari Nadira ini buku cerita yang luar biasa. Fragmennya seperti mata rantai. Itu sebabnya, saya berani katakana, ini antologi cerpen dan juga sebuah novel,” tegas Maman.
Meski Maman berkata seperti itu, Leila S. Chudori yang duduk sebagai pembicara menolak jika buku 9 Dari Nadira dikatakan sebagai antologi cerpen dan juga sebuah novel. “Saya tetap menyebut buku ini sebuah cerita. Itu sebabnya, saya tidak menuliskan di sampul buku sebagai antologi cerpen atau novel,” ujar Leila.
Kendati demikian, Leila tetap membuka diri ketika Maman menyebut bukunya sebagai antologi cerpen yang novel dan sebuah novel yang juga antologi cerpen. “Saya tak ingin mengelompokkan karya ke dalam pembagian-pembagian tertentu. Sebagai penulis, tugas saya ya, menulis. Dan pengelompokan itu adalah tugas kritikus sastra,” katanya.
Sementara itu, penyair dan esais, Jakarta Handoko F. Zainsam, menolak jika buku 9 Dari Nadira adalah pembaruan. Menurutnya, jauh sebelum Leila meluncurkan karyanya, sastra Indonesia telah memiliki cerita bersambung (cerbung). Dan Handoko menyebut buku Leila tersebut sebagai cerita bersambung. Bukan antologi cerpen yang juga sebuah novel, begitu sebaliknya.
Selain membedah buku Leila S. Chudori, buku antologi puisi penyair perempuan pendatang baru, Susy Ayu berjudul Rahim Kata-kata juga dibedah. Dosen Perbandingan Budaya FKIP Bahasa Inggris Universitas Ibnu Khaldun (UIKA) Bogor, Cunong N. Suraja dan esais serta penyair, Jakarta Handoko F. Zainsam berkesempatan membedah buku tersebut.
Menyingkap Peta Sastrawan Bogor
Bogor tidak hanya berjuluk Kota Hujan dan kota sejuta angkot. Bogor adalah tempat berdirinya kerajaan pertama di Indonesia, Kerajaan Hindu Tarumanagara di abad kelima. Beberapa kerajaan lainnya memilih untuk bermukim di tempat yang sama dikarenakan daerah pegunungannya yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk dijadikan benteng pertahanan dari ancaman musuh.
Alm. Prof. Uka Tjandrasasmita – seorang arkeolog – pernah melakukan penelitian terkait hal tersebut. Namun hingga akhir hayatnya, keberadaan tepat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan tersebut, hingga kini masih belum ditemukan bukti otentiknya.
Salah satu prasasti – yang diketahui berasal dari tahun 1533 – pun ditemukan. Prasasti tersebut menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran – salah satu kerajaan yang paling berpengaruh di Pulau Jawa. Dan diyakini, prasasti ini memiliki kekuatan gaib, keramat dan dilestarikan hingga sekarang.
Sejarah kota ini mencatat, Pakwan yang merupakan ibukota pemerintahan Kerajaan Pajajaran diyakini dan bahkan menjadi kesepakatan bersama ada di Kota Bogor. Secara otomatis, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) menjadikan Kota Bogor sebagai pusat pemerintahan. Prabu Siliwangi sendiri dinobatkan sebagai raja pada tanggal 3 Juni 1482.
Zaman poskolonial menulis, setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakwan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada 1687. Mereka melakukan penelitian atas Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.
Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.
Lantas, apa hubungan semua ini dengan peta sastra di Bogor? Sejauhmana kota ini melahirkan sastrawan-sastrawan besar? Jika melihat sejarah di atas, kita, khususnya warga Bogor patut mencermati dan menggali lebih dalam potensi kota tersebut, selain menilik dari sisi ekonomi dan pembangunan fisik kota.
Terakhir. Mampukah Festival Sastra Bogor 2010 persembahan ruang 8 Jurnal Bogor, Wahana Telisik Seni dan Sastra, serta Fakultas Sastra Universitas Pakuan menjadi batu loncatan menyingkap peta sastrawan Bogor? Ini saatnya menggoyang Bogor dengan sastra.
Alm. Prof. Uka Tjandrasasmita – seorang arkeolog – pernah melakukan penelitian terkait hal tersebut. Namun hingga akhir hayatnya, keberadaan tepat dan situs penting yang menyatakan eksistensi kerajaan tersebut, hingga kini masih belum ditemukan bukti otentiknya.
Salah satu prasasti – yang diketahui berasal dari tahun 1533 – pun ditemukan. Prasasti tersebut menceritakan kekuasaan Raja Prabu Surawisesa dari Kerajaan Pajajaran – salah satu kerajaan yang paling berpengaruh di Pulau Jawa. Dan diyakini, prasasti ini memiliki kekuatan gaib, keramat dan dilestarikan hingga sekarang.
Sejarah kota ini mencatat, Pakwan yang merupakan ibukota pemerintahan Kerajaan Pajajaran diyakini dan bahkan menjadi kesepakatan bersama ada di Kota Bogor. Secara otomatis, Prabu Siliwangi (Sri Baduga Maharaja Ratu Haji I Pakuan Pajajaran) menjadikan Kota Bogor sebagai pusat pemerintahan. Prabu Siliwangi sendiri dinobatkan sebagai raja pada tanggal 3 Juni 1482.
Zaman poskolonial menulis, setelah penyerbuan tentara Banten, catatan mengenai Kota Pakwan hilang, dan baru ditemukan kembali oleh ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Scipio dan Riebeck pada 1687. Mereka melakukan penelitian atas Prasasti Batutulis dan beberapa situs lainnya, dan menyimpulkan bahwa pusat pemerintahan Kerajaan Pajajaran terletak di Kota Bogor.
Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal Gustaaf Willem baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Batavia dengan Bogor. Bogor direncanakan sebagai sebagai daerah pertanian dan tempat peristirahatan bagi Gubernur Jenderal. Dengan pembangunan-pembangunan ini, wilayah Bogor pun mulai berkembang.
Lantas, apa hubungan semua ini dengan peta sastra di Bogor? Sejauhmana kota ini melahirkan sastrawan-sastrawan besar? Jika melihat sejarah di atas, kita, khususnya warga Bogor patut mencermati dan menggali lebih dalam potensi kota tersebut, selain menilik dari sisi ekonomi dan pembangunan fisik kota.
Terakhir. Mampukah Festival Sastra Bogor 2010 persembahan ruang 8 Jurnal Bogor, Wahana Telisik Seni dan Sastra, serta Fakultas Sastra Universitas Pakuan menjadi batu loncatan menyingkap peta sastrawan Bogor? Ini saatnya menggoyang Bogor dengan sastra.
Menghidupkan Kembali Tembok Hitam
Tembok hitam. Ya, itulah nama yang diberikan warga Bogor untuk dinding yang hingga kini kokoh berdiri di pintu masuk Botani Square, Kota Bogor. Sejak dibangun pada tahun 90-an, ‘tembok hitam’ itu menjadi saksi bisu banyaknya aktivitas kesenian yang terjadi di kota ini. Mulai dari pameran lukisan hingga aksi teaterikal kelompok teater pelajar, mahasiswa dan umum.
Pada masa lalu – dan mungkin hingga sekarang – ‘tembok hitam’ tercatat sebagai salah satu tempat ‘wajib’ bagi seniman Bogor menggelar pertunjukan atau pameran. Pernah – pada waktu itu – ada istilah di kalangan seniman Bogor : kalau belum pentas atau pameran di ‘tembok hitam’ belum disebut seniman. Istilah ini serupa dengan di kota-kota lain, macam Bandung, Jakarta, Solo, Yogyakarta dan Semarang.
Sejak geliat bisnis di Kota Bogor, khususnya yang terjadi di Botani Square, tinggi dan mencuri perhatian warga untuk hidup konsumtif, aktivitas berkesenian mulai lesu. ‘tembok hitam’ beralih menjadi area pedagang kaki lima (PKL). Sungguh, PKL telah menggusur art center itu. Bagi saya, ‘tembok hitam’ sungguh ideal disebut art center.
Bayangkan. Letaknya di pusat keramaian, di sekitar tugu kebanggaan warga Bogor, Tugu Kujang. Di pusat arus lalu-lintas yang setiap akhir pekan menyebabkan kemacetan luar biasa. Tempatnya terbuka. Artinya, ketika ada aktivitas kesenian sekecil apapun, akan dengan mudah terlihat. Dan satu lagi, akhir-akhir ini, di sekitar ‘tembok hitam’, khususnya menjelang pergantian sore ke malam, banyak dimanfaatkan warga Bogor untuk bersantai. Sungguh ideal bukan?
Namun seiring iklim perpolitikan di Bogor dan nasional kian panas, ‘tembok hitam’ kembali menjadi saksi. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi pergerakan memanfaatkan dinding tersebut sebagai papan provokasi dan saling hujat.
Visualisasinya pun bermacam-macam. Ada dengan menempel spanduk, ada pula dengan aksi demonstrasi. Ini tak bisa dihindari. Pasalnya, letak ‘tembok hitam’ sangat sentral. Dan cocok sebagai tempat menyuarakan kegelisahan.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Diploma IPB yang bergerak di bidang fotografi, Obscura menangkap kegelisahan itu. ‘tembok hitam’ tak dibiarkan diam. Riska Hasnawaty, Ketua Obscura Diploma IPB dengan berani menggelar Pameran Fotografi bertajuk The Power of Digital Photography, hari ini, Minggu 22/8. Kata Riska, ini kali keduanya Obscura menggelar pameran fotografi di ‘tembok hitam’.
Sebanyak 40 karya hasil jepretan anggota Obscura akan dipajang di dinding itu. Tujuannya tak lain, menghasut warga Bogor untuk menghidupkan kembali public area itu. “Pameran ini baru kali pertama ada di Bogor. Kalau di kota-kota lain sih sudah sering. Jujur, saya iri dengan aktivitas berkreasi di kota lain,” kata Riska kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Dan apa yang dilakukan sekarang, adalah pengulangan tahun lalu. Menurut pengakuan Riska, pameran fotografi tahun lalu menuai kesuksesan. Artinya, target menarik perhatian warga Bogor terpenuhi. “Banyak warga yang hendak masuk ke Botani Square menyempatkan diri menyimak jepretan mahasiswa Diploma IPB. Dan semoga kali ini lebih sukses dari tahun lalu,” harapnya.
Terlepas dari aktivitas yang kini digelar Obscura, saya bayangkan ada satu strategi khusus menghidupkan kembali geliat kesenian di ‘Tembok Hitam’. Ada satu rangsangan yang harus dimunculkan secara sabar dan telaten agar seniman-seniman Bogor – dari pelbagi jenis disiplin kesenian – dengan senang hati menggelar aktivitas berkesenian di area ‘tembok hitam’.
Mungkin bisa dibuat penjadwalan aktivitas. Maksudnya, ada agenda – tentunya dengan kesepakatan bersama – tetap yang harus ditaati. Program kerja, barangkali bisa dibuat. Dalam bayangan saya, setiap akhir pekan, ada aktivitas kesenian di sana. Jika sudah ada rutinitas, Bogor tak lagi mendapat julukan kota sepi aktivitas berkesenian. Bogor bakal menjadi kota barometer aktivitas kesenian. Begitu.
Pada masa lalu – dan mungkin hingga sekarang – ‘tembok hitam’ tercatat sebagai salah satu tempat ‘wajib’ bagi seniman Bogor menggelar pertunjukan atau pameran. Pernah – pada waktu itu – ada istilah di kalangan seniman Bogor : kalau belum pentas atau pameran di ‘tembok hitam’ belum disebut seniman. Istilah ini serupa dengan di kota-kota lain, macam Bandung, Jakarta, Solo, Yogyakarta dan Semarang.
Sejak geliat bisnis di Kota Bogor, khususnya yang terjadi di Botani Square, tinggi dan mencuri perhatian warga untuk hidup konsumtif, aktivitas berkesenian mulai lesu. ‘tembok hitam’ beralih menjadi area pedagang kaki lima (PKL). Sungguh, PKL telah menggusur art center itu. Bagi saya, ‘tembok hitam’ sungguh ideal disebut art center.
Bayangkan. Letaknya di pusat keramaian, di sekitar tugu kebanggaan warga Bogor, Tugu Kujang. Di pusat arus lalu-lintas yang setiap akhir pekan menyebabkan kemacetan luar biasa. Tempatnya terbuka. Artinya, ketika ada aktivitas kesenian sekecil apapun, akan dengan mudah terlihat. Dan satu lagi, akhir-akhir ini, di sekitar ‘tembok hitam’, khususnya menjelang pergantian sore ke malam, banyak dimanfaatkan warga Bogor untuk bersantai. Sungguh ideal bukan?
Namun seiring iklim perpolitikan di Bogor dan nasional kian panas, ‘tembok hitam’ kembali menjadi saksi. Sejumlah lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi pergerakan memanfaatkan dinding tersebut sebagai papan provokasi dan saling hujat.
Visualisasinya pun bermacam-macam. Ada dengan menempel spanduk, ada pula dengan aksi demonstrasi. Ini tak bisa dihindari. Pasalnya, letak ‘tembok hitam’ sangat sentral. Dan cocok sebagai tempat menyuarakan kegelisahan.
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Diploma IPB yang bergerak di bidang fotografi, Obscura menangkap kegelisahan itu. ‘tembok hitam’ tak dibiarkan diam. Riska Hasnawaty, Ketua Obscura Diploma IPB dengan berani menggelar Pameran Fotografi bertajuk The Power of Digital Photography, hari ini, Minggu 22/8. Kata Riska, ini kali keduanya Obscura menggelar pameran fotografi di ‘tembok hitam’.
Sebanyak 40 karya hasil jepretan anggota Obscura akan dipajang di dinding itu. Tujuannya tak lain, menghasut warga Bogor untuk menghidupkan kembali public area itu. “Pameran ini baru kali pertama ada di Bogor. Kalau di kota-kota lain sih sudah sering. Jujur, saya iri dengan aktivitas berkreasi di kota lain,” kata Riska kepada Jurnal Bogor, kemarin.
Dan apa yang dilakukan sekarang, adalah pengulangan tahun lalu. Menurut pengakuan Riska, pameran fotografi tahun lalu menuai kesuksesan. Artinya, target menarik perhatian warga Bogor terpenuhi. “Banyak warga yang hendak masuk ke Botani Square menyempatkan diri menyimak jepretan mahasiswa Diploma IPB. Dan semoga kali ini lebih sukses dari tahun lalu,” harapnya.
Terlepas dari aktivitas yang kini digelar Obscura, saya bayangkan ada satu strategi khusus menghidupkan kembali geliat kesenian di ‘Tembok Hitam’. Ada satu rangsangan yang harus dimunculkan secara sabar dan telaten agar seniman-seniman Bogor – dari pelbagi jenis disiplin kesenian – dengan senang hati menggelar aktivitas berkesenian di area ‘tembok hitam’.
Mungkin bisa dibuat penjadwalan aktivitas. Maksudnya, ada agenda – tentunya dengan kesepakatan bersama – tetap yang harus ditaati. Program kerja, barangkali bisa dibuat. Dalam bayangan saya, setiap akhir pekan, ada aktivitas kesenian di sana. Jika sudah ada rutinitas, Bogor tak lagi mendapat julukan kota sepi aktivitas berkesenian. Bogor bakal menjadi kota barometer aktivitas kesenian. Begitu.
“Different Soil Produce Different Crops,” kata Fang Lijun
Di Ark Galerie, Jalan Senopati Raya 92 Jakarta Selatan, tengah berlangsung Sea Drawing Exhibition, mulai 24 Juli hingga 24 Agustus 2010. Di galeri yang terintegrasi dengan kedai kopi tersebut dipamerkan karya sembilan pedrawing Asia Tenggara. Karya-karya mereka sangat menghasut. Ya, kegelisahan, realisme sosial, dan goncangan psikologis masyarakat urban menjadi kekuatan dasar sembilan pedrawing itu.
Sembilan pedrawing itu, Ahmad Zakii Anwar, Jalani Abu Hassan (Malaysia), Angie Seah (Singapore), Jose Legaspi (Philipines), J. Ariadhitya Pramuhendra, Agung Kurniawan, Dewa Gede Ratayoga, Oktianita Kusmugiarti dan Dede Wahyudin (Indonesia). Dan tak salah, ketika saya menulis judul tulisan ini, ‘Different Soil Produce Different Crops’.
Rifky Effendy, kurator pameran, memulai amatannya dengan menuliskan sejarah seni drawing di Asia Tenggara. Begini kata Rifky – seperti yang tertulis dalam katalog – praktek seni modern (drawing.red) di wilayah ini mempunyai sejarah dan perkembangan yang berbeda, walaupun pada awalnya, praktik seni rupa modern diadaptasi dari lembaga-lembaga kolonial abad 19-20. namun – masih ditulis Rifky – seringkali terkait dan bersinggungan dengan aspek-aspek kelokalan atau bentuk seni yang sebelumnya telah menjadi tradisi atau ritual sebuah budaya masyarakat, maupun dengan nilai-nilai budaya.
“Ditambah dengan perkembangan aspek ekonomi di wilayah Asia yang menjadikan karya seni rupa kontemporer sebagai komoditi yang sedang ‘dirayakan’,” kata Rifky. Tentu, Rifky tak main-main soal pendapatnya itu. Aspek ekonomi – di manapun tempatnya – menjadi salah satu pendorong perubahan, tak terkecuali karya seni.
Sejarah di Asia Tenggara sering dikatakan tidak memiliki keutuhan tema hingga masuknya peradaban industri modern, yakni selama seratus tahun terakhir. Ada tradisi yang memiliki asal-usul yang sama, namun berkembang menjadi tradisi yang khas di masing-masing wilayah sesuai dengan kebudayaan masing-masing wilayah. Hal itu menunjukkan bahwa terdapat ciri-ciri asli yang khusus dari masing-asing bangsa.
Tak luput, kesembilan pedrawing itu menunjukkan gejala perbedaan konsep pengkaryaan. Dan sekali lagi, apa yang diucapkan Fang Lijun – seorang seniman terkemuka asal China – pantas dijadikan rujukan bersama. Tanah yang berbeda pasti menghasilkan tanaman yang berbeda pula, begitu kata Fang Lijun.
Selain beda konsep, perbedaan kematangan penggalian kegelisahan pun tampak jelas. Meski sama-sama mengusung kegelisahan masyarakat urban di Ibukota, Dede Wahyudin, kelahiran 1975, yang menampilkan dua karya terbaiknya berjudul Hotel Prodea (200 x 175 cm), Charcoal on Canvas dan Lempar Batu Sembunyi Tangan (200 x 175 cm), Charcoal on Canvas terlihat lebih matang – dari segi apapun – dibanding Oktianita Kusmugiarti, kelahiran 1987 dengan dua karyanya, My Thoughts (173 x 73 cm), pen on paper dan My Day to Day Suit (173 x 73 cm), pen on paper.
Saya bukan membandingkan secara usia, melainkan dari tangkapan, penggalian dan kejelian menangkap serta membaca arah fenomena sosial disekitarnya. Saya anggap, kedua pedrawing beda generasi tersebut memiliki insting kegelisahan sosial yang sama. Cuma, karya Dede lebih terlihat garang dan padat. Dua karya drawing Dede bernuansa realisme sosial, orang-orang bergumul, berkelahi, ribut, berteriak, ada yang jumawa, perkelahian dan lain sebagainya.
Menurut Rifky, karya Dede mengartikulasikan juktaposisi persoalan tersebut dalam satu bidang. Dan Dede, kata Rifky, mampu meresponnya dengan mengolah komposisi dan gestur dari tiap elemen manusia di dalamnya sebagai bentuk-bentuk perwakilan. Sementara itu, Oktianita Kusmugiarti, pedrawing muda pendatang baru Indonesia – demikian kata Rifky – lebih bermain pada makna simbol.
Subyek pergumulan di dalam dirinya di proyeksikan melalui drawing garis yang jernih dan padat. Ketika melihat karya Okti, sapaan akrabnya, simbol-simbol gaya hidup masyarakat urban ibukota tampak jelas. Trend, kematian, kriminalitas dan pendidikan menyatu dalam satu ruang. Meski keduanya sama-sama mengusung makna simbolik, kedalaman garapan sungguh jauh berbeda. Dapat ditarik benang merah, Dede – tidak menilik dari usia – jauh lebih matang dibanding Okti dalam hal penangkapan realita sosial dan aspek-aspek disekitarnya. Untuk kesekian kalinya, ucapan Fang Lijun terbukti. Beda tanah, beda tanaman. Meski keduanya berasal dari tanah yang sama, Indonesia.
Sekarang, mari kita tilik karya perupa Malaysia, Ahmad Zakii Anwar, berjudul Reclining Figure (76 x 211 cm), Charcoal on Paper. Karya tersebut, menurut Rifky, condong ke arah seni yang formil atau akademis. Ini terlihat dari unsur subyek yang digambar tunggal dalam satu komposisi lewat gerak dan hitam-putih fotorealis. Kecenderungan tersebut, bersumber pada salah satu aspek sejarah seni rupa Malaysia tahun 1930-an.
Kata Rifky, di tahun itu lukisan naturalisme mulai dipraktekkan. Hal itulah yang mendorong munculnya karya Melayu masa depan. Tetapi Zakii, ungkap Rifky, berani membebaskan diri dari cara melukis abstraksi maupun yang terkait dengan nilai-nilai etik muslim yang dianut para pendahulunya. Jika dibandingkan dengan karya Dede dan Okti, karya Zakii susah ditangkap. Realitas karya belum tentu menjamin makna realitas.
Historiografi di Asia Tenggara pada mulanya banyak dipengaruhi oleh agama. Agama membawa bentuk seni yang berbeda. Namun semakin maju pola pikir dan kebudayaan masyarakat di Asia Tenggara membuat historiografi juga mengalami perkembangan yang pesat. Setelah Perang Dunia II dan setelah bangsa-bangsa di Asia Tenggara merdeka, mulai menyadari bahwa seni modern itu penting. Dan karya yang dipamerkan di Ark Galerie, patut dijadikan penanda kebangkitan seni modern tersebut.
Sembilan pedrawing itu, Ahmad Zakii Anwar, Jalani Abu Hassan (Malaysia), Angie Seah (Singapore), Jose Legaspi (Philipines), J. Ariadhitya Pramuhendra, Agung Kurniawan, Dewa Gede Ratayoga, Oktianita Kusmugiarti dan Dede Wahyudin (Indonesia). Dan tak salah, ketika saya menulis judul tulisan ini, ‘Different Soil Produce Different Crops’.
Rifky Effendy, kurator pameran, memulai amatannya dengan menuliskan sejarah seni drawing di Asia Tenggara. Begini kata Rifky – seperti yang tertulis dalam katalog – praktek seni modern (drawing.red) di wilayah ini mempunyai sejarah dan perkembangan yang berbeda, walaupun pada awalnya, praktik seni rupa modern diadaptasi dari lembaga-lembaga kolonial abad 19-20. namun – masih ditulis Rifky – seringkali terkait dan bersinggungan dengan aspek-aspek kelokalan atau bentuk seni yang sebelumnya telah menjadi tradisi atau ritual sebuah budaya masyarakat, maupun dengan nilai-nilai budaya.
“Ditambah dengan perkembangan aspek ekonomi di wilayah Asia yang menjadikan karya seni rupa kontemporer sebagai komoditi yang sedang ‘dirayakan’,” kata Rifky. Tentu, Rifky tak main-main soal pendapatnya itu. Aspek ekonomi – di manapun tempatnya – menjadi salah satu pendorong perubahan, tak terkecuali karya seni.
Sejarah di Asia Tenggara sering dikatakan tidak memiliki keutuhan tema hingga masuknya peradaban industri modern, yakni selama seratus tahun terakhir. Ada tradisi yang memiliki asal-usul yang sama, namun berkembang menjadi tradisi yang khas di masing-masing wilayah sesuai dengan kebudayaan masing-masing wilayah. Hal itu menunjukkan bahwa terdapat ciri-ciri asli yang khusus dari masing-asing bangsa.
Tak luput, kesembilan pedrawing itu menunjukkan gejala perbedaan konsep pengkaryaan. Dan sekali lagi, apa yang diucapkan Fang Lijun – seorang seniman terkemuka asal China – pantas dijadikan rujukan bersama. Tanah yang berbeda pasti menghasilkan tanaman yang berbeda pula, begitu kata Fang Lijun.
Selain beda konsep, perbedaan kematangan penggalian kegelisahan pun tampak jelas. Meski sama-sama mengusung kegelisahan masyarakat urban di Ibukota, Dede Wahyudin, kelahiran 1975, yang menampilkan dua karya terbaiknya berjudul Hotel Prodea (200 x 175 cm), Charcoal on Canvas dan Lempar Batu Sembunyi Tangan (200 x 175 cm), Charcoal on Canvas terlihat lebih matang – dari segi apapun – dibanding Oktianita Kusmugiarti, kelahiran 1987 dengan dua karyanya, My Thoughts (173 x 73 cm), pen on paper dan My Day to Day Suit (173 x 73 cm), pen on paper.
Saya bukan membandingkan secara usia, melainkan dari tangkapan, penggalian dan kejelian menangkap serta membaca arah fenomena sosial disekitarnya. Saya anggap, kedua pedrawing beda generasi tersebut memiliki insting kegelisahan sosial yang sama. Cuma, karya Dede lebih terlihat garang dan padat. Dua karya drawing Dede bernuansa realisme sosial, orang-orang bergumul, berkelahi, ribut, berteriak, ada yang jumawa, perkelahian dan lain sebagainya.
Menurut Rifky, karya Dede mengartikulasikan juktaposisi persoalan tersebut dalam satu bidang. Dan Dede, kata Rifky, mampu meresponnya dengan mengolah komposisi dan gestur dari tiap elemen manusia di dalamnya sebagai bentuk-bentuk perwakilan. Sementara itu, Oktianita Kusmugiarti, pedrawing muda pendatang baru Indonesia – demikian kata Rifky – lebih bermain pada makna simbol.
Subyek pergumulan di dalam dirinya di proyeksikan melalui drawing garis yang jernih dan padat. Ketika melihat karya Okti, sapaan akrabnya, simbol-simbol gaya hidup masyarakat urban ibukota tampak jelas. Trend, kematian, kriminalitas dan pendidikan menyatu dalam satu ruang. Meski keduanya sama-sama mengusung makna simbolik, kedalaman garapan sungguh jauh berbeda. Dapat ditarik benang merah, Dede – tidak menilik dari usia – jauh lebih matang dibanding Okti dalam hal penangkapan realita sosial dan aspek-aspek disekitarnya. Untuk kesekian kalinya, ucapan Fang Lijun terbukti. Beda tanah, beda tanaman. Meski keduanya berasal dari tanah yang sama, Indonesia.
Sekarang, mari kita tilik karya perupa Malaysia, Ahmad Zakii Anwar, berjudul Reclining Figure (76 x 211 cm), Charcoal on Paper. Karya tersebut, menurut Rifky, condong ke arah seni yang formil atau akademis. Ini terlihat dari unsur subyek yang digambar tunggal dalam satu komposisi lewat gerak dan hitam-putih fotorealis. Kecenderungan tersebut, bersumber pada salah satu aspek sejarah seni rupa Malaysia tahun 1930-an.
Kata Rifky, di tahun itu lukisan naturalisme mulai dipraktekkan. Hal itulah yang mendorong munculnya karya Melayu masa depan. Tetapi Zakii, ungkap Rifky, berani membebaskan diri dari cara melukis abstraksi maupun yang terkait dengan nilai-nilai etik muslim yang dianut para pendahulunya. Jika dibandingkan dengan karya Dede dan Okti, karya Zakii susah ditangkap. Realitas karya belum tentu menjamin makna realitas.
Historiografi di Asia Tenggara pada mulanya banyak dipengaruhi oleh agama. Agama membawa bentuk seni yang berbeda. Namun semakin maju pola pikir dan kebudayaan masyarakat di Asia Tenggara membuat historiografi juga mengalami perkembangan yang pesat. Setelah Perang Dunia II dan setelah bangsa-bangsa di Asia Tenggara merdeka, mulai menyadari bahwa seni modern itu penting. Dan karya yang dipamerkan di Ark Galerie, patut dijadikan penanda kebangkitan seni modern tersebut.
Buka Puisi
Filsuf Jerman, Ludwig von Wittgenstein berkata “Die Grenzen meiner Sprache bedeuten die Grenzen meniner Welt” yang dalam bahasa Indonesia berarti batas bahasaku adalah batas duniaku. Lantas apa hubungannya dengan judul tulisan ini?
Di bulan Ramadhan, seperti sekarang, istilah ‘buka puasa’ sudah sering kita dengar dan ucapkan. Hampir setiap hari menjelang adzan Magrib – tentunya dengan jam yang berbeda di setiap daerah – seluruh umat Islam melakukan aktivitas buka puasa. Entah sendiri, bersama keluarga atau bersama rekan-rekan semasa sekolah, kuliah atau rekan kantor. Istilah buka puasa tak lagi menjadi asing di telinga kita.
Lantas ‘Buka Puisi’? Apakah memiliki korelasi dengan aktivitas di bulan Ramadhan? Apakah sama dengan aktivitas buka puasa? Ya, pasti pembaca akan menanyakan korelasi judul itu dengan segudang aktivitas di bulan puasa ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan, puasa berarti menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan); 2 n Isl salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yg membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum. Jadi buka puasa adalah aktivitas membatalkan pantangan makan, minum dan lain sebagainya.
Sedangkan Puisi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan memiliki arti 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak. Jadi, buka puisi adalah aktivitas membuka ragam sastra yang bahasanya terikat dengan pelbagai cara.
Apa jadinya jika dua aktivitas berbeda itu disatukan dalam satu momentum. Artinya, dapatkah buka puisi dilakukan waktu buka puasa? Atau sebaliknya, buka puasa sambil buka puisi.
Baru-baru ini, di Komunitas Salihara, Jakarta, digelar Mendaras Puisi. Panitia memilih 4 penyair untuk mendaraskan puisinya di hadapan penonton usai Shalat Tarawih, tepatnya pukul 20.00 wib. Keempat penyair itu, Joko Pinurbo, D. Zawawi Imron, Remy Sylado dan Acep Zamzam Noor. Keempat penyair ini dianggap panitia menggarap tradisi keagamaan tempat mereka lahir dan tumbuh, tanpa menundukkan sastra di kaki panglima agama.
Mendaras Puisi, merupakan aktivitas apresiasi sastra di bulan Ramadhan. Artinya, meski umat Islam sedang khusyuk menjalankan rukun Islam yang ketiga – puasa – aktivitas bersastra tetap berjalan tanpa mengganggu satu sama lain. Bagaimana di Bogor?
Sebagai mitra Kota Jakarta, Bogor tak mau ketinggalan. Apresiasi seni bertajuk ‘Ngabuburit Teater I’tibar’ MAN 2 Kota Bogor akan menjadi bukti bahwa di bulan Ramadhan tahun ini, aktivitas kesenian tetap ada. Acara itu akan digelar, Jumat, 3 September 2010, pukul 15.00 wib bertempat di Aula MAN 2 Kota Bogor.
Galibnya kelompok teater dimanapun berada, ngabuburit atau menanti waktu buka puasa, pasti akan diisi dengan sejumlah pertunjukan. Informasi yang saya terima, ada beberapa guru – yang jelas bukan hanya guru bahasa Indonesia dan guru seni – akan tampil membacakan puisi sembari menunggu bedug adzan Magrib. Usai parade pembacaan puisi – masih menurut informasi yang saya terima – anggota Teater I’tibar yang digawangi Neno Suhartini, guru seni budaya MAN 2 Kota Bogor tampil sebagai acara puncak. Bentuk pementasannya, masih dirahasikan, kata Neno lewat pesan singkatnya.
Menurut Neno, acara ini terbuka untuk umum. Artinya, siapa pun orangnya, bukan saja warga MAN 2 Bogor, boleh ikut atau menyaksikan apresiasi seni di bulan Ramadhan ini. Tentunya dengan tidak mengurangi pahala puasa Anda.
Saya bayangkan, buka puasa sambil berbuka puisi. Semoga tak menjadi batas dunia dan batas bahasa. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
Di bulan Ramadhan, seperti sekarang, istilah ‘buka puasa’ sudah sering kita dengar dan ucapkan. Hampir setiap hari menjelang adzan Magrib – tentunya dengan jam yang berbeda di setiap daerah – seluruh umat Islam melakukan aktivitas buka puasa. Entah sendiri, bersama keluarga atau bersama rekan-rekan semasa sekolah, kuliah atau rekan kantor. Istilah buka puasa tak lagi menjadi asing di telinga kita.
Lantas ‘Buka Puisi’? Apakah memiliki korelasi dengan aktivitas di bulan Ramadhan? Apakah sama dengan aktivitas buka puasa? Ya, pasti pembaca akan menanyakan korelasi judul itu dengan segudang aktivitas di bulan puasa ini.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan, puasa berarti menghindari makan, minum, dsb dng sengaja (terutama bertalian dng keagamaan); 2 n Isl salah satu rukun Islam berupa ibadah menahan diri atau berpantang makan, minum, dan segala yg membatalkannya mulai terbit fajar sampai terbenam matahari; saum. Jadi buka puasa adalah aktivitas membatalkan pantangan makan, minum dan lain sebagainya.
Sedangkan Puisi, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Dalam Jaringan memiliki arti 1 ragam sastra yg bahasanya terikat oleh irama, matra, rima, serta penyusunan larik dan bait; 2 gubahan dl bahasa yg bentuknya dipilih dan ditata secara cermat sehingga mempertajam kesadaran orang akan pengalaman dan membangkitkan tanggapan khusus lewat penataan bunyi, irama, dan makna khusus; 3 sajak. Jadi, buka puisi adalah aktivitas membuka ragam sastra yang bahasanya terikat dengan pelbagai cara.
Apa jadinya jika dua aktivitas berbeda itu disatukan dalam satu momentum. Artinya, dapatkah buka puisi dilakukan waktu buka puasa? Atau sebaliknya, buka puasa sambil buka puisi.
Baru-baru ini, di Komunitas Salihara, Jakarta, digelar Mendaras Puisi. Panitia memilih 4 penyair untuk mendaraskan puisinya di hadapan penonton usai Shalat Tarawih, tepatnya pukul 20.00 wib. Keempat penyair itu, Joko Pinurbo, D. Zawawi Imron, Remy Sylado dan Acep Zamzam Noor. Keempat penyair ini dianggap panitia menggarap tradisi keagamaan tempat mereka lahir dan tumbuh, tanpa menundukkan sastra di kaki panglima agama.
Mendaras Puisi, merupakan aktivitas apresiasi sastra di bulan Ramadhan. Artinya, meski umat Islam sedang khusyuk menjalankan rukun Islam yang ketiga – puasa – aktivitas bersastra tetap berjalan tanpa mengganggu satu sama lain. Bagaimana di Bogor?
Sebagai mitra Kota Jakarta, Bogor tak mau ketinggalan. Apresiasi seni bertajuk ‘Ngabuburit Teater I’tibar’ MAN 2 Kota Bogor akan menjadi bukti bahwa di bulan Ramadhan tahun ini, aktivitas kesenian tetap ada. Acara itu akan digelar, Jumat, 3 September 2010, pukul 15.00 wib bertempat di Aula MAN 2 Kota Bogor.
Galibnya kelompok teater dimanapun berada, ngabuburit atau menanti waktu buka puasa, pasti akan diisi dengan sejumlah pertunjukan. Informasi yang saya terima, ada beberapa guru – yang jelas bukan hanya guru bahasa Indonesia dan guru seni – akan tampil membacakan puisi sembari menunggu bedug adzan Magrib. Usai parade pembacaan puisi – masih menurut informasi yang saya terima – anggota Teater I’tibar yang digawangi Neno Suhartini, guru seni budaya MAN 2 Kota Bogor tampil sebagai acara puncak. Bentuk pementasannya, masih dirahasikan, kata Neno lewat pesan singkatnya.
Menurut Neno, acara ini terbuka untuk umum. Artinya, siapa pun orangnya, bukan saja warga MAN 2 Bogor, boleh ikut atau menyaksikan apresiasi seni di bulan Ramadhan ini. Tentunya dengan tidak mengurangi pahala puasa Anda.
Saya bayangkan, buka puasa sambil berbuka puisi. Semoga tak menjadi batas dunia dan batas bahasa. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi.
Wajah Global Seni Rupa Kontemporer
Pop Art, Conceptual Art dan Minimal Art merupakan masa transisi dari seni rupa modern menunju seni rupa kontemporer. Penentangan pada konteks spiritual kesenimanan dan sublimasi seni lukis menyebabkan seni lukis pada awal tahun 70-an mendapatkan stigma, dan untuk beberapa saat mengalami titik nadir.
Secara perlahan, new media art menjadi salah satu harapan lahirnya seni kontemporer. Hal ini ditandai dengan penggunaan media yang tak sebatas cat minyak dan kanvas. Berbeda dengan masa seni lukis modern, seni lukis kontemporer bangkit dengan menempatkan dirinya sebagai kemungkinan medium representasional - bukan sebagai entitas esensial dan sublim seni rupa.
Pencapaiannya tak berhenti pada estetika, melainkan sudah melangkah pada pencapaian makna filosofis dengan pendalaman kontemplasi. Rifky Setiadi, salah satu perupa Bogor mengatakan, seni kontemporer – khususnya seni rupa – lahir karena banyaknya aturan baku – yang barangkali menurut sebagian besar perupa – sangat mengekang nilai-nilai eksplorasi.
“Seni rupa kontemporer muncul karena ingin menentang sesuatu yang establish. Artinya, perupa kontemporer ingin melakukan pembongkaran nilai yang sudah ada. Intinya, ketidakpuasan dan ingin eksplorasi,” kata Rifky.
Pluralitas seni rupa kontemporer menunjukkan dirinya dengan menerima setiap kemungkinan seni, baik dari segi teori, konsep, medium, material dan ruang kehadiran serta asal usul seniman. Terbukti bahwa seni rupa kontemporer semakin menunjukkan wajah globalnya.
Tentu saja tak bisa dipungkiri tetap hadirnya kekuatan-kekuatan penentu di balik praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer. Sebagai contoh, tak bisa disangkal bahwa kebangkitan seni lukis tidak lepas dari maraknya pasar seni rupa, dan itu ditandai oleh maraknya art-fair di pusat-pusat ekonomi dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi baru.
Yang menarik, bangkitnya gambar atau lebih tepat seni gambar dalam dekade terahir ini ditengarai tidak terlepas dari kembalinya seni lukis. Seni lukis melihat peluang bahwa seni rupa kontemporer dengan kepercayaan pada pluralisme dan “apapun boleh” - tidak memiliki alasan untuk menolak eksistensi seni lukis.
Rudi, perupa asal Bojonggede yang setia memilih media pena sebagai alat lukisnya mengaku bahwa apapun yang dijadikan media adalah pilihan. Artinya, kata Rudi, kesetiaan kepada pilihan media harus dibarengi dengan eksplorasi dan kreativitas. “Dan saya nyaman menggunakan pena untuk melukis,” ungkapnya.
Dan di Bogor, geliat seni rupa kontemporer sudah jauh berjalan. Media yang digunakan pun makin beragam. Selain media – dalam arti alat – perupa Bogor pun tak kekurangan gagasan untuk memperkenalkan karyanya kepada publik – meski sampai sekarang, keberadaan mereka kurang dilirik pemegang otoritas dan masyarakat pada umumnya. Begitu.
Secara perlahan, new media art menjadi salah satu harapan lahirnya seni kontemporer. Hal ini ditandai dengan penggunaan media yang tak sebatas cat minyak dan kanvas. Berbeda dengan masa seni lukis modern, seni lukis kontemporer bangkit dengan menempatkan dirinya sebagai kemungkinan medium representasional - bukan sebagai entitas esensial dan sublim seni rupa.
Pencapaiannya tak berhenti pada estetika, melainkan sudah melangkah pada pencapaian makna filosofis dengan pendalaman kontemplasi. Rifky Setiadi, salah satu perupa Bogor mengatakan, seni kontemporer – khususnya seni rupa – lahir karena banyaknya aturan baku – yang barangkali menurut sebagian besar perupa – sangat mengekang nilai-nilai eksplorasi.
“Seni rupa kontemporer muncul karena ingin menentang sesuatu yang establish. Artinya, perupa kontemporer ingin melakukan pembongkaran nilai yang sudah ada. Intinya, ketidakpuasan dan ingin eksplorasi,” kata Rifky.
Pluralitas seni rupa kontemporer menunjukkan dirinya dengan menerima setiap kemungkinan seni, baik dari segi teori, konsep, medium, material dan ruang kehadiran serta asal usul seniman. Terbukti bahwa seni rupa kontemporer semakin menunjukkan wajah globalnya.
Tentu saja tak bisa dipungkiri tetap hadirnya kekuatan-kekuatan penentu di balik praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer. Sebagai contoh, tak bisa disangkal bahwa kebangkitan seni lukis tidak lepas dari maraknya pasar seni rupa, dan itu ditandai oleh maraknya art-fair di pusat-pusat ekonomi dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi baru.
Yang menarik, bangkitnya gambar atau lebih tepat seni gambar dalam dekade terahir ini ditengarai tidak terlepas dari kembalinya seni lukis. Seni lukis melihat peluang bahwa seni rupa kontemporer dengan kepercayaan pada pluralisme dan “apapun boleh” - tidak memiliki alasan untuk menolak eksistensi seni lukis.
Rudi, perupa asal Bojonggede yang setia memilih media pena sebagai alat lukisnya mengaku bahwa apapun yang dijadikan media adalah pilihan. Artinya, kata Rudi, kesetiaan kepada pilihan media harus dibarengi dengan eksplorasi dan kreativitas. “Dan saya nyaman menggunakan pena untuk melukis,” ungkapnya.
Dan di Bogor, geliat seni rupa kontemporer sudah jauh berjalan. Media yang digunakan pun makin beragam. Selain media – dalam arti alat – perupa Bogor pun tak kekurangan gagasan untuk memperkenalkan karyanya kepada publik – meski sampai sekarang, keberadaan mereka kurang dilirik pemegang otoritas dan masyarakat pada umumnya. Begitu.
Mendadak Penyair
Bogor | Jurnal Bogor
Ngabuburit Baca Eja Puisi yang digelar MAN 2 Kota Bogor, Jumat (3/9) mencatatkan sejarah baru. Tak hanya bagi sekolah itu sendiri, melainkan bagi denyut nadi kesenian di Kota Bogor. Bayangkan, puluhan guru – yang notabene tak bergelut dengan dunia kesenian, khususnya pembacaan puisi – tampil membacakan puisi miliknya atau milik sejumlah penyair yang sudah diakui kualitas karyanya.
Kalimat-kalimat pesimis, kerapkali terlontar dari para pembaca puisi ketika naik ke atas panggung. ‘Berhubung saya bukan penyair, jadi harap maklum jika membaca puisinya jelek’ begitu kalimat yang meluncur dihadapan ratusan siswa MAN 2 Kota Bogor dan tamu undangan. Bagi saya, guru-guru itu tak seharusnya mengucapkan prolog seperti itu.
Sebab – jika menggunakan kacamata ilmu psikologi komunikasi – ucapan itu bisa membuat penyimak (audience) malas menyaksikan penampilannya. Penampil saja tak percaya diri, apalagi penyimak. Bahasa gaulnya, malas ah.
Kendati begitu, ada yang patut digarisbawahi dari acara tersebut. Pertama, tradisi baca, khususnya baca puisi di kalangan pendidik sudah saatnya dibangkitkan. Kedua, momentum bulan Ramadhan ternyata tak menghambat proses berkesenian di sekolah yang terbilang memiliki kegiatan pendidikan padat.
Itulah – barangkali – sejumlah alasan yang dapat dijadikan panduan bagi kita membaca aktivitas kesenian yang terjadi di MAN 2 Kota Bogor. Betapa pun, Ngabuburit Baca Eja Puisi – yang intinya adalah silaturahmi antara warga sekolah dengan penggiat kesenian di Kota Bogor – menyisakan pertanyaan. Jangan-jangan, acara tersebut hanya sebuah ceremonial. Artinya, Ngabuburit Baca Eja Puisi mendadak mencetak penyair – meski saya tahu, itu bukan tujuan utama acara tersebut.
Saya teringat tulisan Suwardi Endraswara bahwa pengajaran sastra mulai tidak sehat sejak tahun 1975. Pengajaran sastra Indonesia sudah terkena infeksi berlarut-larut karena di dalamnya terhinggapi kanker ganas. Pengajaran sastra di sekolah memang menjadi persoalan pelik yang belum menemukan obat mujarab.
Saya menganggap, Ngabuburit Baca Eja Puisi merupakan ruh dari Sastra Masuk Sekolah yang digagas Pusat Bahasa (Departemen Pendidikan Nasional) pada tahun 1999. Guru yang notabene menjadi sosok pengajar – meski bukan guru sastra – memiliki tanggungjawab besar menumbuhkan geliat bersastra (baca dan tulis) di kalangan peserta didik.
Sastra sebagai pengalaman adalah stimulus pada murid untuk bisa meleburkan diri dalam proses apresiasi sastra. Pengalaman menjadi kunci agar murid memiliki pandangan bahwa sastra itu bukan sesuatu yang asing dalam laku kehidupan. Sastra sebagai bahasa adalah kompetensi murid untuk mengekpresikan diri dalam konstruksi bahasa dengan pertimbangan estetika dan linguistic. Belajar sastra menjadi proses belajar dalam praktik bahasa. Pemahaman inilah yang membuat relasi sastra dan bahasa berada dalam wilayah ‘keromantisan yang akut’.
Bagaimanapun juga, Ngabuburit Baca Eja Puisi MAN 2 Kota Bogor merupakan manuver kesenian yang patut diperbincangkan, walaupun, Divisi Sastra Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) mulai berancang-ancang menggelar forum sastra Bogor, Oktober mendatang. Langkah MAN 2 Kota Bogor bisa menjadi batu loncatan aktivitas sastra di sekolah-sekolah lain. Dan semoga, manuver-manuver yang dilakukan dan akan dilakukan tak mendadak mencetak penyair. Begitu. n Dony P. Herwanto
Ngabuburit Baca Eja Puisi yang digelar MAN 2 Kota Bogor, Jumat (3/9) mencatatkan sejarah baru. Tak hanya bagi sekolah itu sendiri, melainkan bagi denyut nadi kesenian di Kota Bogor. Bayangkan, puluhan guru – yang notabene tak bergelut dengan dunia kesenian, khususnya pembacaan puisi – tampil membacakan puisi miliknya atau milik sejumlah penyair yang sudah diakui kualitas karyanya.
Kalimat-kalimat pesimis, kerapkali terlontar dari para pembaca puisi ketika naik ke atas panggung. ‘Berhubung saya bukan penyair, jadi harap maklum jika membaca puisinya jelek’ begitu kalimat yang meluncur dihadapan ratusan siswa MAN 2 Kota Bogor dan tamu undangan. Bagi saya, guru-guru itu tak seharusnya mengucapkan prolog seperti itu.
Sebab – jika menggunakan kacamata ilmu psikologi komunikasi – ucapan itu bisa membuat penyimak (audience) malas menyaksikan penampilannya. Penampil saja tak percaya diri, apalagi penyimak. Bahasa gaulnya, malas ah.
Kendati begitu, ada yang patut digarisbawahi dari acara tersebut. Pertama, tradisi baca, khususnya baca puisi di kalangan pendidik sudah saatnya dibangkitkan. Kedua, momentum bulan Ramadhan ternyata tak menghambat proses berkesenian di sekolah yang terbilang memiliki kegiatan pendidikan padat.
Itulah – barangkali – sejumlah alasan yang dapat dijadikan panduan bagi kita membaca aktivitas kesenian yang terjadi di MAN 2 Kota Bogor. Betapa pun, Ngabuburit Baca Eja Puisi – yang intinya adalah silaturahmi antara warga sekolah dengan penggiat kesenian di Kota Bogor – menyisakan pertanyaan. Jangan-jangan, acara tersebut hanya sebuah ceremonial. Artinya, Ngabuburit Baca Eja Puisi mendadak mencetak penyair – meski saya tahu, itu bukan tujuan utama acara tersebut.
Saya teringat tulisan Suwardi Endraswara bahwa pengajaran sastra mulai tidak sehat sejak tahun 1975. Pengajaran sastra Indonesia sudah terkena infeksi berlarut-larut karena di dalamnya terhinggapi kanker ganas. Pengajaran sastra di sekolah memang menjadi persoalan pelik yang belum menemukan obat mujarab.
Saya menganggap, Ngabuburit Baca Eja Puisi merupakan ruh dari Sastra Masuk Sekolah yang digagas Pusat Bahasa (Departemen Pendidikan Nasional) pada tahun 1999. Guru yang notabene menjadi sosok pengajar – meski bukan guru sastra – memiliki tanggungjawab besar menumbuhkan geliat bersastra (baca dan tulis) di kalangan peserta didik.
Sastra sebagai pengalaman adalah stimulus pada murid untuk bisa meleburkan diri dalam proses apresiasi sastra. Pengalaman menjadi kunci agar murid memiliki pandangan bahwa sastra itu bukan sesuatu yang asing dalam laku kehidupan. Sastra sebagai bahasa adalah kompetensi murid untuk mengekpresikan diri dalam konstruksi bahasa dengan pertimbangan estetika dan linguistic. Belajar sastra menjadi proses belajar dalam praktik bahasa. Pemahaman inilah yang membuat relasi sastra dan bahasa berada dalam wilayah ‘keromantisan yang akut’.
Bagaimanapun juga, Ngabuburit Baca Eja Puisi MAN 2 Kota Bogor merupakan manuver kesenian yang patut diperbincangkan, walaupun, Divisi Sastra Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) mulai berancang-ancang menggelar forum sastra Bogor, Oktober mendatang. Langkah MAN 2 Kota Bogor bisa menjadi batu loncatan aktivitas sastra di sekolah-sekolah lain. Dan semoga, manuver-manuver yang dilakukan dan akan dilakukan tak mendadak mencetak penyair. Begitu. n Dony P. Herwanto
06 Juni 2009
Degradasi Simbol dan Dominasi Mode
Menyikapi Kemunculan Batik Bogor
Cibinong | Jurnal Bogor
Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan mengandung makna filosofis pada setiap motifnya. Pada zaman kerajaan, batik digunakan untuk membedakan status, baik raja, ratu, pangeran, abdi dalem hingga masyarakat di luar lingkungan kerajaan.
Banyaknya makna filosofis yang terkandung dalam setiap goresan canting ke kain, menjadikan batik sulit dikerjakan dalam hitungan minggu atau bulan. Sebab, pemaknaan yang dalam memberikan tempat tafsir atas motif batik yang digunakan.
Kata batik berasal dari Bahasa Jawa yakni amba yang artinya menulis dan titik. Jadi bisa dikatakan bahwa batik adalah upaya menuliskan titik-titik di atas sehelai kain dengan pemaknaan akan simbol.
Penciptaan karya seni, khususnya batik memang bukan dominasi Kota Solo, Yogyakarta, Pekalongan dan Cirebon. Semua daerah berhak memiliki karya seni tersebut. Sebab, batik merupakan wujud hasil proses budaya. Secara sadar, penciptaan karya seni itu kadang-kadang menampakkan kewenangan di tiap-tiap daerah yang memiliki kultur sejarah kerajaan yang kuat, macam Solo, Yogyakarta dan Cirebon.
Di tiga kota inilah, batik muncul sebagai salah satu proses kreatif manusia yang didasarkan kepada sebuah simbol daerah itu sendiri. Karya-karya ini lahir sebagai akibat dari sistem sosial budaya yang menuntut adanya status sosial.
Jika menilik upaya Rukoyah Suswoyo, penggagas Batik khas Bogor yang mulai diperkenalkan kepada khayalak ramai saat Hari Jadi Bogor (HJB) ke-527 di Bogor Nirwana Residence (BNR), Kamis (4/6) lalu itu, sedikit banyak mengubah arah kultur sejarah batik. Pasalnya, simbol atau corak yang diangkat Rukoyah hanyalah sebatas pengangkatan ciri khas Bogor, seperti kujang, kijang dan variasi-variasi bunga teratai.
Dengan gagasan Rukoyah meluncurkan batik Bogor yang diberi merk Tradisiku, stigma bahwa batik penuh dengan nilai-nilai filosofis tingkat tinggi dan penanda status sosial serta fungsi penggunaannya hilang. Sebab, menurut Rukoyah, pembuatan batik Bogor itu hanya sebatas mengharumkan nama Bogor. Tak lebih. Padahal batik adalah karya seni purba dengan tingkat kesulitan dan pemaknaan yang tinggi.
Bisa dikatakan, Rukoyah tidak berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal batik karyanya dari sisi filosofi melainkan sekedar menunjukkan bahwa simbol yang dipakai merupakan ciri khas Bogor. Lantas apa bedanya dengan yang dilakukan negara tetangga kita, Malaysia, ketika mereka mengklaim bahwa batik adalah milik mereka?
Jika kita teliti lebih dalam, kesalahan itu ada pada kekurang konsistenan kita memertahankan simbol yang ada di dalam batik itu sendiri (terlepas dari unsur fashion tentunya). Seandainya mampu memertahankan simbol, upaya pengklaiman batik sebagai hasil budaya bisa diminimalisir. Paling tidak, ada nilai-nilai sejarah yang itu semua tak bisa diklaim. Menurut hemat penulis, biarlah batik tetap menjadi identitas Surakarta, Pekalongan, Yogyakarta, Mojokerto dan Cirebon. Sebab, di kota-kota inilah tumbuh sejarah batik dengan pemaknaan filosofi yang tinggi. Dan mustahil diikuti negara atau kota lain.
Dalam buku Budaya dan Masyarakat, Kuntowijoyo dengan tegas mengatakan bahwa perubahan kebudayaan dan tata nilai di masyarakat disebabkan karena adanya tuntutan pasar. Ini artinya, Batik Bogor bukanlah usaha untuk mengembalikan identitas bangsa. Melainkan tuntutan pasar dan mode (fashion). Dengan kata lain menggunakan peluang perkembangan zaman.
Kenapa Rukoyah hanya mengangkat corak kijang, kujang dan bunga teratai? Jika alasannya ciri khas Bogor, mengapa tidak sekalian memasukkan angkutan kota atau hujan (sebutan Kota Hujan) ke dalam batik buatannya? Toh keduanya juga ciri khas Bogor yang sudah mendunia.
Inilah alasan penulis menggunakan judul degradasi simbol dan dominasi mode. Bukan berarti, Rukoyah menghilangkan simbol sebagai tempat tafsir masyarakat dalam batik karyanya. Sebab, kujang, kijang dan teratai juga simbol. Tapi Rukoyah yang bukan asli warga Bogor lupa bahwa batik tak sekedar mengangkat ciri khas kota tempat batik berasal.
Misalnya, Solo (Surakarta.red). Batik khas Solo yang dibuat di daerah Laweyan, salah satu tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam pada tahun 1912 itu justeru tak memasukkan ciri khas Kota Solo. Para pembatik di kawasan Laweyan malah memasukkan karakter-karakter atau pola tingkah laku masyarakat Jawa yang santun. Ini bisa kita lihat dari pemilihan warna dan tebal tipis coraknya.
Inilah perbedaan yang dimaksudkan itu. Simbol yang dijadikan corak tak sekedar apa yang ada di daerah itu saja, melainkan apa yang menjadi kebiasaan dan adat istiadat setempat.
Semoga apa yang telah dilakukan Rukoyah dengan produk Batik Bogor mampu menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan hasil budaya, khususnya batik. Ini satu nilai plus menangkal pengklaiman karya purba tersebut.
Dony P. Herwanto
Cibinong | Jurnal Bogor
Batik merupakan hasil seni budaya yang memiliki keindahan visual dan mengandung makna filosofis pada setiap motifnya. Pada zaman kerajaan, batik digunakan untuk membedakan status, baik raja, ratu, pangeran, abdi dalem hingga masyarakat di luar lingkungan kerajaan.
Banyaknya makna filosofis yang terkandung dalam setiap goresan canting ke kain, menjadikan batik sulit dikerjakan dalam hitungan minggu atau bulan. Sebab, pemaknaan yang dalam memberikan tempat tafsir atas motif batik yang digunakan.
Kata batik berasal dari Bahasa Jawa yakni amba yang artinya menulis dan titik. Jadi bisa dikatakan bahwa batik adalah upaya menuliskan titik-titik di atas sehelai kain dengan pemaknaan akan simbol.
Penciptaan karya seni, khususnya batik memang bukan dominasi Kota Solo, Yogyakarta, Pekalongan dan Cirebon. Semua daerah berhak memiliki karya seni tersebut. Sebab, batik merupakan wujud hasil proses budaya. Secara sadar, penciptaan karya seni itu kadang-kadang menampakkan kewenangan di tiap-tiap daerah yang memiliki kultur sejarah kerajaan yang kuat, macam Solo, Yogyakarta dan Cirebon.
Di tiga kota inilah, batik muncul sebagai salah satu proses kreatif manusia yang didasarkan kepada sebuah simbol daerah itu sendiri. Karya-karya ini lahir sebagai akibat dari sistem sosial budaya yang menuntut adanya status sosial.
Jika menilik upaya Rukoyah Suswoyo, penggagas Batik khas Bogor yang mulai diperkenalkan kepada khayalak ramai saat Hari Jadi Bogor (HJB) ke-527 di Bogor Nirwana Residence (BNR), Kamis (4/6) lalu itu, sedikit banyak mengubah arah kultur sejarah batik. Pasalnya, simbol atau corak yang diangkat Rukoyah hanyalah sebatas pengangkatan ciri khas Bogor, seperti kujang, kijang dan variasi-variasi bunga teratai.
Dengan gagasan Rukoyah meluncurkan batik Bogor yang diberi merk Tradisiku, stigma bahwa batik penuh dengan nilai-nilai filosofis tingkat tinggi dan penanda status sosial serta fungsi penggunaannya hilang. Sebab, menurut Rukoyah, pembuatan batik Bogor itu hanya sebatas mengharumkan nama Bogor. Tak lebih. Padahal batik adalah karya seni purba dengan tingkat kesulitan dan pemaknaan yang tinggi.
Bisa dikatakan, Rukoyah tidak berupaya memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengenal batik karyanya dari sisi filosofi melainkan sekedar menunjukkan bahwa simbol yang dipakai merupakan ciri khas Bogor. Lantas apa bedanya dengan yang dilakukan negara tetangga kita, Malaysia, ketika mereka mengklaim bahwa batik adalah milik mereka?
Jika kita teliti lebih dalam, kesalahan itu ada pada kekurang konsistenan kita memertahankan simbol yang ada di dalam batik itu sendiri (terlepas dari unsur fashion tentunya). Seandainya mampu memertahankan simbol, upaya pengklaiman batik sebagai hasil budaya bisa diminimalisir. Paling tidak, ada nilai-nilai sejarah yang itu semua tak bisa diklaim. Menurut hemat penulis, biarlah batik tetap menjadi identitas Surakarta, Pekalongan, Yogyakarta, Mojokerto dan Cirebon. Sebab, di kota-kota inilah tumbuh sejarah batik dengan pemaknaan filosofi yang tinggi. Dan mustahil diikuti negara atau kota lain.
Dalam buku Budaya dan Masyarakat, Kuntowijoyo dengan tegas mengatakan bahwa perubahan kebudayaan dan tata nilai di masyarakat disebabkan karena adanya tuntutan pasar. Ini artinya, Batik Bogor bukanlah usaha untuk mengembalikan identitas bangsa. Melainkan tuntutan pasar dan mode (fashion). Dengan kata lain menggunakan peluang perkembangan zaman.
Kenapa Rukoyah hanya mengangkat corak kijang, kujang dan bunga teratai? Jika alasannya ciri khas Bogor, mengapa tidak sekalian memasukkan angkutan kota atau hujan (sebutan Kota Hujan) ke dalam batik buatannya? Toh keduanya juga ciri khas Bogor yang sudah mendunia.
Inilah alasan penulis menggunakan judul degradasi simbol dan dominasi mode. Bukan berarti, Rukoyah menghilangkan simbol sebagai tempat tafsir masyarakat dalam batik karyanya. Sebab, kujang, kijang dan teratai juga simbol. Tapi Rukoyah yang bukan asli warga Bogor lupa bahwa batik tak sekedar mengangkat ciri khas kota tempat batik berasal.
Misalnya, Solo (Surakarta.red). Batik khas Solo yang dibuat di daerah Laweyan, salah satu tempat berdirinya Syarekat Dagang Islam pada tahun 1912 itu justeru tak memasukkan ciri khas Kota Solo. Para pembatik di kawasan Laweyan malah memasukkan karakter-karakter atau pola tingkah laku masyarakat Jawa yang santun. Ini bisa kita lihat dari pemilihan warna dan tebal tipis coraknya.
Inilah perbedaan yang dimaksudkan itu. Simbol yang dijadikan corak tak sekedar apa yang ada di daerah itu saja, melainkan apa yang menjadi kebiasaan dan adat istiadat setempat.
Semoga apa yang telah dilakukan Rukoyah dengan produk Batik Bogor mampu menunjukkan bahwa Indonesia kaya akan hasil budaya, khususnya batik. Ini satu nilai plus menangkal pengklaiman karya purba tersebut.
Dony P. Herwanto
18 April 2009
Sastra dan Masyarakat
Sebagai simbol verbal, karya sastra dalam hal ini puisi memiliki andil besar di dalam masyarakat. Dituliskan Kontowijoyo dalam bukunya yang berjudul Budaya dan Masyarakat (2006), andil besar sastra dalam masyarakat di antaranya sebagai cara pemahaman (model of comprehension), perhubungan (mode of communication), dan cara penciptaan (mode of creation).
Menurut dia, obyek karya sastra adalah realitas. Dari sini tampak jelas bahwa tugas sastrawan dalam kasus ini penyair harus mewartakan realitas dalam bentuk puisi yang bagi Gaston Bachelard dalam buku Poetics of Space, suatu realitas adalah sebuah kawasan yang terkait dengan pikiran, tindakan, ingatan, dan mimpi. Artinya, tafsiran realita yang diinginkan masyarakat adalah sesuatu yang hadir dari gagasan yang mampu menggerakkan.
Melihat upaya yang dilakukan ruang 8 Jurnal Bogor, Komunitas Menulis Bogor dan Komunitas Gubuk Kata dalam acara bertajuk Sastra Bulan Genap, Minggu (12/4) di Aula Radio Sipatahunan, pantas bagi kita untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap proses penyadaran masyarakat.
Penyair sekaligus pemerhati lingkungan dan sosial Eka Budianta mengatakan, menjadi penyair berarti tidak tinggal diam, melainkan ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah di masyarakat, merasakannya, berpikiran bersama untuk dan tentang masyarakat.
Sastra Bulan Genap menjadi sebuah simbol verbal yang akan diberikan kepada masyarakat, baik pecinta atau pemerhati sastra maupun masyarakat awam bahwa karya sastra harus mendapat tempat yang layak dan semestinya.
Dari acara yang menghadirkan Dadan Suwarna (Dosen Sastra Universitas Pakuan) dan Cunong N. Suraja (Pemerhati Sastra dan Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor) sebagai pembicara maka tampak jelas jika generasi muda memiliki gairah menghidupkan sastra di Bogor yang sejauh ini terlihat loyo dan ngos-ngosan.
Loyo dan tak adanya ruang apresiasi karya sastra terutama puisi menjadi sebuah dasar bahwa apa yang disampaikan Kuntowijoyo belum sampai. Pun dengan adanya Fakultas Sastra di Bogor belum mampu memberikan warna dan tanda-tanda untuk menggerakkan masyarakat. Tentunya mereka (mahasiswa dan dosen sastra.red) punya alasan sendiri dalam hal ini.
Jean-Francois Lyotard menilai, apa yang penting dalam sebuah teks (sastra-puisi) bukanlah maknanya, tetapi apa yang dikerjakan dan ingin dikerjakannya, beban pengaruh yang dikandung dan ditransmisikan.
Acara yang juga menghadirkan komunitas lintas sastra, seperti Arisan Teater, Low Rider, Majalah Arti (grup Jurnal Bogor), Candle Light Dinner (grup musik akustik) dan Clarinet feat Indri (kelompok jazz) menjadi bukti bahwa eksistensi sastra mulai bisa diterima masyarakat. Meski baru kali pertama menggelar acara Sastra Bulan Genap, paling tidak bola salju itu siap menggelinding.
Melihat acara Sastra Bulan Genap, seolah mengingatkan kepada apa yang pernah dituliskan Friedrich Wilhelm Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir. Dengan tegas Filsuf Jerman ini mengakui, ‘Aku tahu takdirku…aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit…’. Jika dikembalikan ke konteks sastra dan masyarakat, maka Sastra Bulan Genap adalah dinamit yang siap memberikan ledakan dahsyat di tengah-tengah masyarakat yang lelap dan latah budaya.
Jika kita percaya bahwa sastra sebagai sistem simbol mempunyai kaitan erat dengan sistem sosial yang melahirkannya, maka kita akan temukan bahwa mempelajari sastra dari segi intelektualnya sama dengan mempelajari kesadaran masyarakat.
Sebagai potret masyarakat, sastra mampu memberikan landasan penilian tentang apa yang sedang terjadi. Hubungan langsung atau tak langsung antara karya sastra sebagai sistem simbol dan sistem sosial dalam arti ketergantungan dan ketidaktergantungannya, menentukan apa yang dinamakan arah (Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, 2006).
Semoga Sastra Bulan Genap menjadi titik awal penemuan arah kesusastraan di Bogor. Sekaligus membuka babak baru seni budaya di kota hujan ini. Lantas tugas masyarakat? Berilah apresiasi dan semangat agar seni budaya khususnya sastra tetap eksis di tengah serbuan budaya populer yang mulai meracuni generasi muda. Lantas tugas akademisi dan seniman (sastrawan.red)? Teruslah berproses mencipta karya kreatif dan memberikan edukasi bahwa sastra sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Dony P. Herwanto
Dimuat di Jurnal Bogor Edisi Minggu, 19 April 2009 di Rubrik Jendela Halimun
Menurut dia, obyek karya sastra adalah realitas. Dari sini tampak jelas bahwa tugas sastrawan dalam kasus ini penyair harus mewartakan realitas dalam bentuk puisi yang bagi Gaston Bachelard dalam buku Poetics of Space, suatu realitas adalah sebuah kawasan yang terkait dengan pikiran, tindakan, ingatan, dan mimpi. Artinya, tafsiran realita yang diinginkan masyarakat adalah sesuatu yang hadir dari gagasan yang mampu menggerakkan.
Melihat upaya yang dilakukan ruang 8 Jurnal Bogor, Komunitas Menulis Bogor dan Komunitas Gubuk Kata dalam acara bertajuk Sastra Bulan Genap, Minggu (12/4) di Aula Radio Sipatahunan, pantas bagi kita untuk memberikan apresiasi setinggi-tingginya terhadap proses penyadaran masyarakat.
Penyair sekaligus pemerhati lingkungan dan sosial Eka Budianta mengatakan, menjadi penyair berarti tidak tinggal diam, melainkan ikut terlibat dalam menyelesaikan masalah di masyarakat, merasakannya, berpikiran bersama untuk dan tentang masyarakat.
Sastra Bulan Genap menjadi sebuah simbol verbal yang akan diberikan kepada masyarakat, baik pecinta atau pemerhati sastra maupun masyarakat awam bahwa karya sastra harus mendapat tempat yang layak dan semestinya.
Dari acara yang menghadirkan Dadan Suwarna (Dosen Sastra Universitas Pakuan) dan Cunong N. Suraja (Pemerhati Sastra dan Dosen Universitas Ibn Khaldun Bogor) sebagai pembicara maka tampak jelas jika generasi muda memiliki gairah menghidupkan sastra di Bogor yang sejauh ini terlihat loyo dan ngos-ngosan.
Loyo dan tak adanya ruang apresiasi karya sastra terutama puisi menjadi sebuah dasar bahwa apa yang disampaikan Kuntowijoyo belum sampai. Pun dengan adanya Fakultas Sastra di Bogor belum mampu memberikan warna dan tanda-tanda untuk menggerakkan masyarakat. Tentunya mereka (mahasiswa dan dosen sastra.red) punya alasan sendiri dalam hal ini.
Jean-Francois Lyotard menilai, apa yang penting dalam sebuah teks (sastra-puisi) bukanlah maknanya, tetapi apa yang dikerjakan dan ingin dikerjakannya, beban pengaruh yang dikandung dan ditransmisikan.
Acara yang juga menghadirkan komunitas lintas sastra, seperti Arisan Teater, Low Rider, Majalah Arti (grup Jurnal Bogor), Candle Light Dinner (grup musik akustik) dan Clarinet feat Indri (kelompok jazz) menjadi bukti bahwa eksistensi sastra mulai bisa diterima masyarakat. Meski baru kali pertama menggelar acara Sastra Bulan Genap, paling tidak bola salju itu siap menggelinding.
Melihat acara Sastra Bulan Genap, seolah mengingatkan kepada apa yang pernah dituliskan Friedrich Wilhelm Nietzsche dalam bab Mengapa Aku adalah Takdir. Dengan tegas Filsuf Jerman ini mengakui, ‘Aku tahu takdirku…aku bukan seorang manusia, aku sebuah dinamit…’. Jika dikembalikan ke konteks sastra dan masyarakat, maka Sastra Bulan Genap adalah dinamit yang siap memberikan ledakan dahsyat di tengah-tengah masyarakat yang lelap dan latah budaya.
Jika kita percaya bahwa sastra sebagai sistem simbol mempunyai kaitan erat dengan sistem sosial yang melahirkannya, maka kita akan temukan bahwa mempelajari sastra dari segi intelektualnya sama dengan mempelajari kesadaran masyarakat.
Sebagai potret masyarakat, sastra mampu memberikan landasan penilian tentang apa yang sedang terjadi. Hubungan langsung atau tak langsung antara karya sastra sebagai sistem simbol dan sistem sosial dalam arti ketergantungan dan ketidaktergantungannya, menentukan apa yang dinamakan arah (Kuntowijoyo, Budaya dan Masyarakat, 2006).
Semoga Sastra Bulan Genap menjadi titik awal penemuan arah kesusastraan di Bogor. Sekaligus membuka babak baru seni budaya di kota hujan ini. Lantas tugas masyarakat? Berilah apresiasi dan semangat agar seni budaya khususnya sastra tetap eksis di tengah serbuan budaya populer yang mulai meracuni generasi muda. Lantas tugas akademisi dan seniman (sastrawan.red)? Teruslah berproses mencipta karya kreatif dan memberikan edukasi bahwa sastra sangat erat hubungannya dengan masyarakat.
Dony P. Herwanto
Dimuat di Jurnal Bogor Edisi Minggu, 19 April 2009 di Rubrik Jendela Halimun
23 Februari 2009
Penyerahan Diri Dewi Shinta
Di Balik Kisah Penculikan Shinta oleh Rahwana
Epos Ramayana memang pantas menjadi representasi kehidupan. Banyak nilai-nilai agama dan sosial tersaji di sana. Dari serentetan cerita Ramayana (perjalanan Prabu Rama.red), sejenak kita menengok kisah penculikan Dewi Shinta oleh Rahwana (Dasamuka = Sepuluh Muka.red). Apakah benar, Dewi Shinta diculik Rahwana? Ataukah Dewi Shinta yang menyerahkan diri kepada Rahwana?
Dewi Shinta laiknya perempuan masa kini yang tentu saja memiliki nafsu dan keinginan untuk mendapatkan laki-laki sejati. Ego seperti ini wajar ketika Dewi Shinta tak menemukan sosok laki-laki gentle di diri Prabu Rama. Sebaliknya, Dewi Shinta malah menemukannya pada sosok Rahwana, raja bangsa Rakshasa dari Kerajaan Alengka.
Meski banyak orang mengatakan bahwa kisah percintaan Prabu Rama dengan Dewi Shinta adalah perjalanan cinta sejati. Tapi ketika melihat kepada ego Dewi Shinta yang mengharapkan kehadiran laki-laki sejati hal tersebut sangat paradoksal. Bisa dikatakan bahwa kisah penculikan Dewi Shinta sebagai gambaran siapa laki-laki sejati dan siapa yang pengecut.
Banyak kalangan menyebutkan bahwa Shinta diculik Rahwana. Dan sangat sedikit yang mengulas bahwa Shinta bukan diculik tapi dia (Dewi Shinta.red) terpikat dengan sosok Rahwana yang ketampanannya dapat melebihi Prabu Rama. Dari sinilah, mucul pelbagai versi cerita Ramayana. Jika cerita tersebut ditarik pada zaman sekarang, opsi bahwa Dewi Shinta diculik Rahwana gugur. Dan opsi bahwa Dewi Shinta terpikat dengan sosok Rahwana yang dalam hal ini lebih lak-laki dibanding Rama bisa terbukti.
Bukti kuat yang menyebutkan bahwa Prabu Rama kurang menunjukkan diri sebagai laki-laki sejati adalah ketika dia (Prabu Rama.red) memerintahkan Hanoman untuk masuk ke dalam Istana Alengka menjemput istrinya (Dewi Shinta.red). “Hal inilah yang membuat Dewi Shinta kecewa atas sikap Prabu Rama. Karena dia berharap suaminya yang datang dan melihat kondisi istrinya secara langsung,” kata Rutdee C. Hidayat, pelaku seni dan budaya Kota Solo ketika dihubungi Jurnal Bogor, kemarin.
Menurut Rutdee, sikap Dewi Shinta sangat beralasan. Sebab, di tengah ego memiliki pendamping seorang laki-laki sejati, Prabu Rama malah tak bisa menunjukkannya. “Wajar ketika ada versi yang menyatakan bahwa Dewi Shinta tidak diculik, melainkan ikut pergi ke Alengka bersama Rahwana. Sebab, Rahwana lebih laki-laki dibanding Rama,” tegasnya.
Dikatakan Rutdee, adanya pelbagai sudut pandang cerita Ramayana membuktikan kepada kita bahwa sejarah atau mitos sekalipun sangat multitafsir. Artinya, banyak cara untuk menggali informasi untuk memeroleh suatu kebenaran, paling tidak sebagai wacana yang dapat mencerahkan.
“Inilah yang menyebabkan banyak di antara kalangan pedalangan dan penari yang menafsirkan cerita Ramayana. Dan itu bagi saya sah-sah saja. Asal tak menyimpang dari inti cerita yakni, kisah perjalanan Prabu Rama dari pembuangan hingga menjadi raja Ayodhya,” ujarnya.
Dengan demikian, sosok Rahwana adalah manifestasi dari laki-laki sejati yang dengan gagah berani untuk mendapatkan sesuatu yang disukai. Buktinya, Rahwana menyuruh Marica untuk mengelabuhi Rama dan Lakshmana dengan mengubah diri menjadi seekor Kijang berbulu emas yang ternyata memikat hati Shinta.
Dari sini terlihat bagaimana upaya Rahwana mendapatkan sosok Shinta. Ditambah lagi, ide-ide cemerlang Rahwana menembus lingkaran sakti yang dipasang Lakshmana untuk melindungi Shinta dari niat jahat para raksasa.
Rahwana yang datang dengan wujud pengemis tua berusaha mencuri perhatian Shinta yang dia tahu berwatak welas asih. Watak welas asih inilah yang dijadikan Rahwana sebagai momentum mencuri hati Shinta.
Apa yang dilakukan Rahwana tak jauh beda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki zaman sekarang. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bahwa Dewi Shinta diculik Rahwana ketika menggunakan paradigma kekinian dan mengacu kepada kebutuhan perempuan. Sekalilagi, Dewi Shinta adalah sosok perempuan yang mendambakan laki-laki sejati.
Dimuat di Jurnal Bogor, Minggu 22 Februari 2009 di Halaman Jendela Halimun
Epos Ramayana memang pantas menjadi representasi kehidupan. Banyak nilai-nilai agama dan sosial tersaji di sana. Dari serentetan cerita Ramayana (perjalanan Prabu Rama.red), sejenak kita menengok kisah penculikan Dewi Shinta oleh Rahwana (Dasamuka = Sepuluh Muka.red). Apakah benar, Dewi Shinta diculik Rahwana? Ataukah Dewi Shinta yang menyerahkan diri kepada Rahwana?
Dewi Shinta laiknya perempuan masa kini yang tentu saja memiliki nafsu dan keinginan untuk mendapatkan laki-laki sejati. Ego seperti ini wajar ketika Dewi Shinta tak menemukan sosok laki-laki gentle di diri Prabu Rama. Sebaliknya, Dewi Shinta malah menemukannya pada sosok Rahwana, raja bangsa Rakshasa dari Kerajaan Alengka.
Meski banyak orang mengatakan bahwa kisah percintaan Prabu Rama dengan Dewi Shinta adalah perjalanan cinta sejati. Tapi ketika melihat kepada ego Dewi Shinta yang mengharapkan kehadiran laki-laki sejati hal tersebut sangat paradoksal. Bisa dikatakan bahwa kisah penculikan Dewi Shinta sebagai gambaran siapa laki-laki sejati dan siapa yang pengecut.
Banyak kalangan menyebutkan bahwa Shinta diculik Rahwana. Dan sangat sedikit yang mengulas bahwa Shinta bukan diculik tapi dia (Dewi Shinta.red) terpikat dengan sosok Rahwana yang ketampanannya dapat melebihi Prabu Rama. Dari sinilah, mucul pelbagai versi cerita Ramayana. Jika cerita tersebut ditarik pada zaman sekarang, opsi bahwa Dewi Shinta diculik Rahwana gugur. Dan opsi bahwa Dewi Shinta terpikat dengan sosok Rahwana yang dalam hal ini lebih lak-laki dibanding Rama bisa terbukti.
Bukti kuat yang menyebutkan bahwa Prabu Rama kurang menunjukkan diri sebagai laki-laki sejati adalah ketika dia (Prabu Rama.red) memerintahkan Hanoman untuk masuk ke dalam Istana Alengka menjemput istrinya (Dewi Shinta.red). “Hal inilah yang membuat Dewi Shinta kecewa atas sikap Prabu Rama. Karena dia berharap suaminya yang datang dan melihat kondisi istrinya secara langsung,” kata Rutdee C. Hidayat, pelaku seni dan budaya Kota Solo ketika dihubungi Jurnal Bogor, kemarin.
Menurut Rutdee, sikap Dewi Shinta sangat beralasan. Sebab, di tengah ego memiliki pendamping seorang laki-laki sejati, Prabu Rama malah tak bisa menunjukkannya. “Wajar ketika ada versi yang menyatakan bahwa Dewi Shinta tidak diculik, melainkan ikut pergi ke Alengka bersama Rahwana. Sebab, Rahwana lebih laki-laki dibanding Rama,” tegasnya.
Dikatakan Rutdee, adanya pelbagai sudut pandang cerita Ramayana membuktikan kepada kita bahwa sejarah atau mitos sekalipun sangat multitafsir. Artinya, banyak cara untuk menggali informasi untuk memeroleh suatu kebenaran, paling tidak sebagai wacana yang dapat mencerahkan.
“Inilah yang menyebabkan banyak di antara kalangan pedalangan dan penari yang menafsirkan cerita Ramayana. Dan itu bagi saya sah-sah saja. Asal tak menyimpang dari inti cerita yakni, kisah perjalanan Prabu Rama dari pembuangan hingga menjadi raja Ayodhya,” ujarnya.
Dengan demikian, sosok Rahwana adalah manifestasi dari laki-laki sejati yang dengan gagah berani untuk mendapatkan sesuatu yang disukai. Buktinya, Rahwana menyuruh Marica untuk mengelabuhi Rama dan Lakshmana dengan mengubah diri menjadi seekor Kijang berbulu emas yang ternyata memikat hati Shinta.
Dari sini terlihat bagaimana upaya Rahwana mendapatkan sosok Shinta. Ditambah lagi, ide-ide cemerlang Rahwana menembus lingkaran sakti yang dipasang Lakshmana untuk melindungi Shinta dari niat jahat para raksasa.
Rahwana yang datang dengan wujud pengemis tua berusaha mencuri perhatian Shinta yang dia tahu berwatak welas asih. Watak welas asih inilah yang dijadikan Rahwana sebagai momentum mencuri hati Shinta.
Apa yang dilakukan Rahwana tak jauh beda dengan apa yang dilakukan kaum laki-laki zaman sekarang. Jadi, kurang tepat jika dikatakan bahwa Dewi Shinta diculik Rahwana ketika menggunakan paradigma kekinian dan mengacu kepada kebutuhan perempuan. Sekalilagi, Dewi Shinta adalah sosok perempuan yang mendambakan laki-laki sejati.
Dimuat di Jurnal Bogor, Minggu 22 Februari 2009 di Halaman Jendela Halimun
17 Februari 2009
Hujan
kau tekuni katakata
hingga tak kuasa menghindar
lihat,
ada anakanak cinta
memintal kata
hingga tak jadi payung
langit itu
hei, siapa berani mencinta hujan
tanpa payung katakata!!
Buitenzorg
hingga tak kuasa menghindar
lihat,
ada anakanak cinta
memintal kata
hingga tak jadi payung
langit itu
hei, siapa berani mencinta hujan
tanpa payung katakata!!
Buitenzorg
08 Februari 2009
Hujan Kata-Kata
hujan yang menjelma katakata
membawa wangimu ke rumah senjaku
tinggalkan dan tanggalkan almanakmu
karena januari telah berganti
biarkan, darah dan lelah
bersatu dalam deras
nanti pasti lupa,
langitlangit memberi warna pelangi
tidakkah kau tahu
hujan yang menjelma katakata
melompat dalam sajak-ku
Buitenzorg
membawa wangimu ke rumah senjaku
tinggalkan dan tanggalkan almanakmu
karena januari telah berganti
biarkan, darah dan lelah
bersatu dalam deras
nanti pasti lupa,
langitlangit memberi warna pelangi
tidakkah kau tahu
hujan yang menjelma katakata
melompat dalam sajak-ku
Buitenzorg
04 Februari 2009
Pengembara Juga Butuh Peta
di kota baru
ada pengembara baru
dia memburu bulan
di ujung sana
langit-langit mengendap lindap
hujan berburu hujan
di kota baru itu
sang pengambara lupa membawa peta
"tolong beri aku peta" katanya pada bulan
Buitenzorg
ada pengembara baru
dia memburu bulan
di ujung sana
langit-langit mengendap lindap
hujan berburu hujan
di kota baru itu
sang pengambara lupa membawa peta
"tolong beri aku peta" katanya pada bulan
Buitenzorg
Langganan:
Postingan (Atom)