seperti rapak
diterbangkan angin
kemudian rekta
seperti juga rembaya
yang dicium ombak
terombang-ambing
di ujung sandyakala
pun seorang barya
basang basanta
di ujung rambutnya
itu cecaya
simpan dan cintai
laiknya danastri
ada elar
ditiup hening
bernyanyi seperti gangsir
Buitenzorg
09 Desember 2008
Puisi Hujan
: untuk sajak Esha Tegar Putra 'Puisi Kecil'
riak-riak hujan menjelma puisi
di separuh langitku
mengingat pelangi
mengikat puisi
perlahan kabut cemberut
lalu duduk di bangku waktu
sambil menunggu Tuhan selesai warnai pelangi
menjereng kata
menjelma puisi
pada sisa hujan
yang riaknya bagai cauk
Buitenzorg
riak-riak hujan menjelma puisi
di separuh langitku
mengingat pelangi
mengikat puisi
perlahan kabut cemberut
lalu duduk di bangku waktu
sambil menunggu Tuhan selesai warnai pelangi
menjereng kata
menjelma puisi
pada sisa hujan
yang riaknya bagai cauk
Buitenzorg
08 Desember 2008
PEMBUKAAN KONGRES & SIDANG PLENO
Rabu, 10 Desember 2008:
09.00–10.00 Registrasi Peserta Lobby Hotel Salak
10.00–10.05 Pembukaan oleh MC
10.05–10.10 Laporan Ketua Pelaksana Kongres Kebudayaan Indonesia 2008, oleh Dirjen NBSF, Bapak Drs. Tjetjep Suparman, M.Si
10.10-10.20 Sambutan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,Ir. Jero Wacik,SE
10.20-10.35 Sambutan dan Arahan sekaligus Pembukaan Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat,Ir.H.Aburizal Bakrie
10.35–11.00 -Pemberian Anugerah Kebudayaan
- Penandatangan MOU antara Menbudpar dengan 7 (tujuh) Perguruan Tinggi Negeri
- Pemberian Bantuan kepada Seniman Berprestasi
11.00–11.30 Rehat Kopi
Press Conference (11.00 – 12.00 )
Nara Sumber: Menko Kesra, Menbupar, Bpk. Mukhlis PaEni/Bu Edi Sedyawati/Bpk.Putu Wijaya Kinanti Room (Lt.2)
SIDANG PLENO I Istana Ballroom
11.30 – 12.00 Penjelasan pelaksanaan Kongres Kebudayaan oleh Ketua Panitia Pengarah, Bapak Dr. Mukhlis PaEni
12.00 – 13.00 Istirahat, Sholat & Makan Siang Fatmawati (Lt.1)Canari CafĂ© (Lt.1)
Binenhoff Restaurant (Lt. 1)
Poolside (Lt.1)
Note:
Pada saat berlangsungnya Kongres Kebudayaan Indonesia 2008, diselenggarakan Pentas Budaya untuk masyarakat di Plaza Balaikota Bogor
SIDANGKELOMPOK 1 ISTANA BALLROOM(Lt.2)“KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEBUDAYAAN”
Moderator: Eka Budianta
Pembicara
13.00 – 13.20 1. Prof. Dr. Mudji Sutrisno
13.20 – 13.40 2. Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji
13.40 – 14.00 3. Al Azhar
14.00 – 14.30 Diskusi /tanya jawab
14.30 – 14.45 Istirahat / Rehat kopi
14.45 – 15.05 4. Dr. Luluk Sumiarso
15.05 – 15.25 5. Dr. Philipus Tulle
15.25 - 15.45 6. Dr. Sutamat Aribowo
15.45 – 16.05 7. Dr. Yudi Latief
16.05 – 16.45 Diskusi /tanya jawab
SIDANG KELOMPOK 2 PAKUAN ROOM (Lt.1)“FILM/SENI MEDIA”
Moderator: Ratna Riantiarno
Pembicara:
13.00 – 13.20 1. Aswendo Atmowiloto
13.20 – 13.40 2. Jajang C. Noer
13.40 – 14.00 3. Johan Tjasmadi
14.00 – 14.30 Diskusi /tanya jawab
14.30 – 14.45 Istirahat / Rehat kopi
14.45 – 15.05 4. Laela S. Chudori
15.05 – 15.25 5. Titie Said
15.25 – 15.55 Diskusi /tanya jawab
SIDANG KELOMPOK 3GALUH ROOM(Lt.1)“SENI RUPA”
Moderator: H. Hardi
Pembicara
13:00 – 13:20 1. Dr. Agus Burhan
13:20 – 13:40 2. Asmudjo Jono Irianto
13:40 – 14:00 3. Oei Hong Djien
14:00 – 14:20 4. Suwarno Wisetrotomo
14:20 – 14:40 5. Dra. Iriatine Karnaya
14:40 – 15:10 Diskusi /tanya jawab
15:10 – 15:25 Istirahat / Rehat kopi
SIDANG KELOMPOK 4 PADJADJARAN 1(Lt.4)“IDENTITAS BUDAYA”
Moderator: Dr. Laretna T. Adishakti
Pembicara
13:00 – 13.20 1. Dr. Mukhlis PaEni
13.20 – 13.40 2. Prof. Dr. Sri Hastanto, S.Kar
13.40 – 14.00 3. Prof. Dr. Ayu Sutarto
14.00 – 14.30 Diskusi /tanya jawab
14.30 – 14.45 Istirahat / Rehat kopi
14.45 – 15.05 4. Dr. Ninuk Kleden
15.05 – 15.25 5. Prof. Dr. Sjafri Sairin
15.25 - 15.45 6. Dr. Stephanus Djuweng
15.45 – 16.05 7. Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc
16.05 – 16.35 Diskusi /tanya jawab
16.30 -19.00 Istirahat
19.00 -21.00 Makan Malam Istana Ballroom
Sumber:Panitia Konggres Kebudayaan Indonesia 2008
09.00–10.00 Registrasi Peserta Lobby Hotel Salak
10.00–10.05 Pembukaan oleh MC
10.05–10.10 Laporan Ketua Pelaksana Kongres Kebudayaan Indonesia 2008, oleh Dirjen NBSF, Bapak Drs. Tjetjep Suparman, M.Si
10.10-10.20 Sambutan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata,Ir. Jero Wacik,SE
10.20-10.35 Sambutan dan Arahan sekaligus Pembukaan Kongres Kebudayaan Indonesia 2008 oleh Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat,Ir.H.Aburizal Bakrie
10.35–11.00 -Pemberian Anugerah Kebudayaan
- Penandatangan MOU antara Menbudpar dengan 7 (tujuh) Perguruan Tinggi Negeri
- Pemberian Bantuan kepada Seniman Berprestasi
11.00–11.30 Rehat Kopi
Press Conference (11.00 – 12.00 )
Nara Sumber: Menko Kesra, Menbupar, Bpk. Mukhlis PaEni/Bu Edi Sedyawati/Bpk.Putu Wijaya Kinanti Room (Lt.2)
SIDANG PLENO I Istana Ballroom
11.30 – 12.00 Penjelasan pelaksanaan Kongres Kebudayaan oleh Ketua Panitia Pengarah, Bapak Dr. Mukhlis PaEni
12.00 – 13.00 Istirahat, Sholat & Makan Siang Fatmawati (Lt.1)Canari CafĂ© (Lt.1)
Binenhoff Restaurant (Lt. 1)
Poolside (Lt.1)
Note:
Pada saat berlangsungnya Kongres Kebudayaan Indonesia 2008, diselenggarakan Pentas Budaya untuk masyarakat di Plaza Balaikota Bogor
SIDANGKELOMPOK 1 ISTANA BALLROOM(Lt.2)“KEBIJAKAN DAN STRATEGI KEBUDAYAAN”
Moderator: Eka Budianta
Pembicara
13.00 – 13.20 1. Prof. Dr. Mudji Sutrisno
13.20 – 13.40 2. Prof. Dr. Budi Susilo Soepandji
13.40 – 14.00 3. Al Azhar
14.00 – 14.30 Diskusi /tanya jawab
14.30 – 14.45 Istirahat / Rehat kopi
14.45 – 15.05 4. Dr. Luluk Sumiarso
15.05 – 15.25 5. Dr. Philipus Tulle
15.25 - 15.45 6. Dr. Sutamat Aribowo
15.45 – 16.05 7. Dr. Yudi Latief
16.05 – 16.45 Diskusi /tanya jawab
SIDANG KELOMPOK 2 PAKUAN ROOM (Lt.1)“FILM/SENI MEDIA”
Moderator: Ratna Riantiarno
Pembicara:
13.00 – 13.20 1. Aswendo Atmowiloto
13.20 – 13.40 2. Jajang C. Noer
13.40 – 14.00 3. Johan Tjasmadi
14.00 – 14.30 Diskusi /tanya jawab
14.30 – 14.45 Istirahat / Rehat kopi
14.45 – 15.05 4. Laela S. Chudori
15.05 – 15.25 5. Titie Said
15.25 – 15.55 Diskusi /tanya jawab
SIDANG KELOMPOK 3GALUH ROOM(Lt.1)“SENI RUPA”
Moderator: H. Hardi
Pembicara
13:00 – 13:20 1. Dr. Agus Burhan
13:20 – 13:40 2. Asmudjo Jono Irianto
13:40 – 14:00 3. Oei Hong Djien
14:00 – 14:20 4. Suwarno Wisetrotomo
14:20 – 14:40 5. Dra. Iriatine Karnaya
14:40 – 15:10 Diskusi /tanya jawab
15:10 – 15:25 Istirahat / Rehat kopi
SIDANG KELOMPOK 4 PADJADJARAN 1(Lt.4)“IDENTITAS BUDAYA”
Moderator: Dr. Laretna T. Adishakti
Pembicara
13:00 – 13.20 1. Dr. Mukhlis PaEni
13.20 – 13.40 2. Prof. Dr. Sri Hastanto, S.Kar
13.40 – 14.00 3. Prof. Dr. Ayu Sutarto
14.00 – 14.30 Diskusi /tanya jawab
14.30 – 14.45 Istirahat / Rehat kopi
14.45 – 15.05 4. Dr. Ninuk Kleden
15.05 – 15.25 5. Prof. Dr. Sjafri Sairin
15.25 - 15.45 6. Dr. Stephanus Djuweng
15.45 – 16.05 7. Prof. Dr. Syarif Ibrahim Alqadrie, M.Sc
16.05 – 16.35 Diskusi /tanya jawab
16.30 -19.00 Istirahat
19.00 -21.00 Makan Malam Istana Ballroom
Sumber:Panitia Konggres Kebudayaan Indonesia 2008
KONGRES KEBUDAYAAN INDONESIA 2008
JADWAL ACARA
BOGOR, JAWA BARAT: 10 - 12 DESEMBER 2008
“Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian menuju Kesejahteraan”
Selasa,9 Desember 2008 KEDATANGAN WAKTU KEGIATAN KETERANGAN KEDATANGAN& REGISTRASI
09:00 – 18.00 Kedatangan: Peserta,Pembicara,Exhibitor/Peserta Pameran,dan Media
09.00 – 16.00 Registrasi untuk Peserta, Pembicara, media & Exhibitor/Peserta Pameran Set up booth untuk pameran kebudayaan Hotel Salak
19.00 – 21.00 Makan Malam
Kota Bogor mendapatkan kehormatan menggelar hajatan budaya nasional bertajuk "Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian Menuju Kesejahteraan". acara tersebut di gelar di salah satu hotel bersejarah di Kota Bogor, yakni Hotel Salak. di tempat dan di kota inilah, ratusan budayawan dari berbagai daerah berkumpul dan merumuskan satu pandangan mengenai kemajuan kebudayaan dan capaian yang ingin diraih.
semoga para budayawan ini tak salah dalam merumuskan budaya yang nantinya akan dijadikan pegangan bagi generasi penerus, amin.
Buitenzorg
BOGOR, JAWA BARAT: 10 - 12 DESEMBER 2008
“Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian menuju Kesejahteraan”
Selasa,9 Desember 2008 KEDATANGAN WAKTU KEGIATAN KETERANGAN KEDATANGAN& REGISTRASI
09:00 – 18.00 Kedatangan: Peserta,Pembicara,Exhibitor/Peserta Pameran,dan Media
09.00 – 16.00 Registrasi untuk Peserta, Pembicara, media & Exhibitor/Peserta Pameran Set up booth untuk pameran kebudayaan Hotel Salak
19.00 – 21.00 Makan Malam
Kota Bogor mendapatkan kehormatan menggelar hajatan budaya nasional bertajuk "Kebudayaan untuk Kemajuan dan Perdamaian Menuju Kesejahteraan". acara tersebut di gelar di salah satu hotel bersejarah di Kota Bogor, yakni Hotel Salak. di tempat dan di kota inilah, ratusan budayawan dari berbagai daerah berkumpul dan merumuskan satu pandangan mengenai kemajuan kebudayaan dan capaian yang ingin diraih.
semoga para budayawan ini tak salah dalam merumuskan budaya yang nantinya akan dijadikan pegangan bagi generasi penerus, amin.
Buitenzorg
04 Desember 2008
Kita Saling Kejar
: Pinto Anugrah
anak hujan berlarian di ujung waktu
bersembunyi di balik anak daun
keduanya saling sapa
dan saling kejar
anak hujan ngumpet
di balik pohon besar
anak daun ngintip
di sela hujan
sesaat terdengar auman petir
keduanya mendekap Tuhan
Buitenzorg
anak hujan berlarian di ujung waktu
bersembunyi di balik anak daun
keduanya saling sapa
dan saling kejar
anak hujan ngumpet
di balik pohon besar
anak daun ngintip
di sela hujan
sesaat terdengar auman petir
keduanya mendekap Tuhan
Buitenzorg
28 November 2008
Bayang Bulan Dalam Kolam
: Sutardji

jepretan Bayu G. Murti | Jurnal Bogor
kutemukan bayang bulan dalam kolam
sejumput kemudian hilang
ada anakanak bermain di kolam
dan bertanya
"kakak, dimana bulan yang kemarin?"
"ada di dalam kolam," jawabku
dan anakanak itu terdiam,
sebab bulan yang dicari, hilang
"kok cahayanya nggak ada?" katanya lagi
"coba menyelamlah!" suruhku
tanpa ragu, anakanak itu nyemplung.
tak ada kecipak
dan air susut.
di halaman muka surat kabar tertulis
ada anakanak nyemplung kolam karena mencari cahaya bulan dalam kolam
malamnya, warga desa menggelar zikir
aku pun terlibat dalam zikir itu
tanpa sadar bulan yang kucuri di dalam kolam memuncratkan cahaya
warga yang tahu langsung berteriak
ada pencuri bulan di zikir ini!
aku tersudut
dan cahaya bulan terserabut
zikir berhenti seketika.
Buitenzorg

jepretan Bayu G. Murti | Jurnal Bogor
kutemukan bayang bulan dalam kolam
sejumput kemudian hilang
ada anakanak bermain di kolam
dan bertanya
"kakak, dimana bulan yang kemarin?"
"ada di dalam kolam," jawabku
dan anakanak itu terdiam,
sebab bulan yang dicari, hilang
"kok cahayanya nggak ada?" katanya lagi
"coba menyelamlah!" suruhku
tanpa ragu, anakanak itu nyemplung.
tak ada kecipak
dan air susut.
di halaman muka surat kabar tertulis
ada anakanak nyemplung kolam karena mencari cahaya bulan dalam kolam
malamnya, warga desa menggelar zikir
aku pun terlibat dalam zikir itu
tanpa sadar bulan yang kucuri di dalam kolam memuncratkan cahaya
warga yang tahu langsung berteriak
ada pencuri bulan di zikir ini!
aku tersudut
dan cahaya bulan terserabut
zikir berhenti seketika.
Buitenzorg
26 November 2008
9 Pertanyaan untuk SCB, Presiden Penyair Indonesia

jepretan Bayu G. Murti | Jurnal Bogor
Senin, 24 November 2008, Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri (SCB) berkesempatan hadir di acara La Sastra, salah satu acara pesta sastra pelajar yang diadakan SMAN 5 Bogor dengan peserta SMP-SMA se-Jabodetabek. Kedatangan SCB di La Sastra adalah untuk menjadi pembicara. Dalam kesempatan itu pula, SCB membacakan sekitar 10 puisi dihadapan ratusan pelajar dan sejumlah tamu undangan yang kebanyakan dari kalangan seniman Kota Bogor. Setelah SCB selesai sharing dan membacakan beberapa karya puisinya, saya berkesempatan mewawancarai SCB ketika dirinya hendak meninggalkan Kota Bogor. Berikut wawancara Dony P. Herwanto (DPH) dari Jurnal Bogor.
DPH: Menurut Anda, Kredo itu apa?
SCB: Kredo merupakan pernyataan mengenai suatu kepercayaan. Artinya, saya percaya pada apa yang telah saya ucapkan.
DPH: Kredo Anda adalah ‘Bebaskan kata dari maknanya’ apakah bagi Anda, kredo itu dapat dipertahankan hingga kapan-pun?
SCB: Selama aku percaya, maka kredo itu akan terus hidup. Jika tak dapat memertahankan kredo, maka dia (baca: kredo) akan mati begitu saja.
DPH: Apa yang melatar belakangi Anda menggunakan kredo itu?
SCB: Kata itu bukanlah alat penghantar bagi pengertian. Tapi kata adalah kata itu sendiri. Dia punya pengertian atas kata itu sendiri. Jika kata masih membutuhkan pengertian, maka selama itu pula kita tak bisa membebaskan kata dari pengertiannya.
DPH: Apa yang dapat Anda banggakan dari puisi-puisi yang lahir dari proses pembebasan kata dari maknanya?
SCB: Setiap Puisi yang saya cipta punya hak melakukan penafsiran sendiri. Tak seperti kebanyakan puisi saat ini yang masih banyak terbentur dengan masalah makna. Jika penyair masih seperti ini, maka dunia perpuisian Indonesia mandeg.
DPH: Terus apa yang mestinya dilakukan?
SCB: Bukan semestinya.
DPH: Terus bagaimana?
SCB: Biarkan kata hidup untuk kata itu.
DPH: Dari semua puisi yang telah Anda cipta, mana yang paling Anda sukai?
SCB: Tak ada. Karena ketika kita sudah jatuh cinta kepada satu puisi atau beberapa puisi, kita akan terjebak dengan apa yang dinamakan pembelengguan kreativitas.
DPH: Terus?
SCB: Cintailah puisi sebelum dia jadi atau cintai kata sebelum dia jadi kata. Intinya, cintailah sebelum dia jadi.
DPH: Kapan Anda akan berhenti menulis puisi
SCB: Ketika Tuhan mulai malas menuliskan kata untuk manusia.
Buitenzorg
24 November 2008
Adakah Yang Lebih Selain Kau

Raden Adjeng Ayu
kau bilang airmata
tapi kubilang mata air
kau bilang bila
tapi kubilang masih
adakah senja mengirimkan luka
saat duri mawar tergeletak di tepi
adakah yang lebih sunyi dari hati
adakah yang lebih luka dari mata
adakah yang lebih ia dari dia
adakah yang lebih
selain kau!
mawarmawar berserakan di tepi jalan
tapi durinya masih
kunangkunang di lembab malam
tapi pendarnya masih
kupukupu beterbangan ditepian senja
tapi bulunya masih
adakah yang lebih
selain kau!
Buitenzorg
20 November 2008
Dan Seperti Apa Doa
19 November 2008
Selalu Seperti Ini

jepretan Bayu G. Murti | Jurnal Bogor
selalu seperti ini.
di bawah langit yang sama
di cakrawala yang sama
pun setiap hari
mesin-mesin itu tiada lelah
memainkan perannya
dan waktu dan manusia
terus diburu bandul waktu yang tak pernah lupa berdentum
rentetan itu seperti kereta api yang saling antri di stasiun
berdengus, mengendus
kemudian menunggu peluit penjaga rel sebelum melanjutkan
ke negeri senja
selalu seperti ini.
dalam hujan pun dalam terik
Buitenzorg
17 November 2008
Percakapan Rahasia
mangkuk itu telah penuh darah
sore itu, seorang bocah tergeletak di pinggir sebuah jalan
yang selalu menghubungkan ke senja.
bocah itu terjaketi perih
di dekatnya ada kabel yang terhubung Israil
"kau siap?" tanya utusan Tuhan itu
"Sebentar ya Israil, aku lupa menaruh ponselku. sebab, aku menunggu ibu marah padaku," ucap bocah yang sore itu wajahnya tertilam senja
Buitenzorg
sore itu, seorang bocah tergeletak di pinggir sebuah jalan
yang selalu menghubungkan ke senja.
bocah itu terjaketi perih
di dekatnya ada kabel yang terhubung Israil
"kau siap?" tanya utusan Tuhan itu
"Sebentar ya Israil, aku lupa menaruh ponselku. sebab, aku menunggu ibu marah padaku," ucap bocah yang sore itu wajahnya tertilam senja
Buitenzorg
14 November 2008
Hasan Aspahani, Reinkarnasi Sapardi dan Sutardji
Ada Sapardi Djoko Damono (SDD) di diri penyair Batam Hasan Aspahani (HAH). Itu kesan kali pertama ketika membaca sajak berjudul Malam Membimbingku Menjabat Tanganmu, salah satu puisi yang ditempatkan diawal dari kumpulan puisi Lelaki yang Dicintai Bidadari, terbitan Bookerfly yang di dalamnya memuat 78 puisi karya HAH yang sengaja atau tak sengaja lupa menuliskan tahun dan tanggal pembuatan puisi-puisi itu.
SDD yang dikenal lewat kekuatan daya cipta kata dan kesadaran akan realita yang tinggi seakan melekat di setiap goresan tinta dan imaji yang dituangkan HAH. Sajak pembuka yang mengambarkan tentang proses pencarian akan-Nya sama percis dengan bunyi dan gaya bahasa serta penulisan sajak SDD berjudul Aku Ingin. Coba tengok gaya bahasa yang ditampilkan SDD dalam puisi berjudul Aku Ingin:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
(Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin)
Kemudian lihat karya HAH berjudul Malam Membimbingku Menjabat Tanganmu:
Aku ingin belajar pada malam
bagaimana membisikkan suara
yang lebih lirih daripada sepi
: malam mengajariku mengucapkan cinta
lewat mimpi-mimpimu.
(Hasan Aspahani, Malam Membimbingku Menjabat Tanganmu, Lelaki yang Dicintai Bidadari)
Dua sajak itu mencoba mengisahkan tentang usaha atau upaya mencapai kesempurnaan. SDD lebih kepada kesempurnaan cinta dan HAH mengejar kesempurnaan tentang kesunyian. Tapi inti dari pencapaian itu sama, yakni mencari yang sempurna. Meski kedua penyair ini berbeda generasi, namun untuk urusan daya imaji SDD dan HAH patut disejajarkan. Paling tidak untuk kini.
Kekuatan daya cipta HAH berangkat dari kemampuannya membuat komik strip sejak kecil. Ketika membaca beberapa puisi HAH, baik itu di blogspot, antologi puisi Orgasmaya, Telimpuh dan Lelaki yang Dicintai Bidadari seolah kita sedang membaca satu cerita bergambar yang amat menarik.
Buktinya, dalam setiap kata yang dia susun menjadi kalimat tak luput dari kehidupan nyata. Kesadaran HAH akan ruang dan waktu, membantunya mencipta satu karya yang fantastis. Keberanian HAH mengolah kata merupakan hasil reka ulang dari proses membaca karya sastra asing. Artinya, referensi yang diperoleh bukan saja lewat pemaknaan realita melainkan pemaknaan bahasa. Yang dalam hal ini dia dapatkan dari beberapa buku kumpulan puisi karya penyair Amerika dan Eropa, khususnya Spanyol.
Selain ada SDD dalam diri HAH, kredo sang presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri (SCB) pun dia bawa dalam tas berisi jutaan kata-kata yang siap ditata apik menjadi satu tumpukan kalimat. ’Bebaskan kata dari maknanya’, satu kredo dari SCB rupanya menguntit di setiap lekuk sajaknya.
Inilah sajak yang dimaksud itu:
AKU mau jadi sebuah huruf,
sebuah konsonan yang hidup,
menyelinap di antara abjadmu.
(HAH, Menyelinap di Antara Abjadmu, Lelaki yang Dicintai Bidadari)
Dari sajak di atas, HAH berhasil melepaskan diri dari makna yang sederhana. Permainan kata dan makna tampak jelas. Anehnya, HAH tak terjebak dengan pola itu. Di negeri ini, tak banyak penyair yang berani mengubah struktur pakem. Meski tampak sederhana, HAH mampu menghadirkan sesuatu yang luar biasa.
Seperti kredo puisi yang diucapkan SCB, demikian bunyinya:
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Rupanya, HAH paham betul akan makna bebas dan kata adalah pengertian itu sendiri. HAH benar-benar unik, dia lahir di zaman yang tepat. Zaman dimana semua orang masih memercayai kata sebagai pengantar.
Meski dia bukan Sapardi Djoko Damono, bukan pula Sutardji Calzoum Bachri, tapi HAH berhasil menghidupkan karakter mereka di alam imaji. HAH dengan bebas memungut setiap kata yang memang sudah lama dia simpan di alam pikirnya, dan ketika kata itu dibutuhkan, maka kapan saja HAH dengan mudah memungutnya, seperti pemulung.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, yakni kumpulan puisi Lelaki yang Dicintai Bidadari sangat nikmat dibaca sambil minum kopi di sore hari dan sesekali mendengarkan cericit burung dan desau angin, dan sesekali pula memejamkan mata serta menguatkan indera pendengaran untuk mendengarkan bebisik kata yang disampaikan kata kepada angin yang menjadikannya senja.
Buitenzorg
SDD yang dikenal lewat kekuatan daya cipta kata dan kesadaran akan realita yang tinggi seakan melekat di setiap goresan tinta dan imaji yang dituangkan HAH. Sajak pembuka yang mengambarkan tentang proses pencarian akan-Nya sama percis dengan bunyi dan gaya bahasa serta penulisan sajak SDD berjudul Aku Ingin. Coba tengok gaya bahasa yang ditampilkan SDD dalam puisi berjudul Aku Ingin:
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
(Sapardi Djoko Damono, Aku Ingin)
Kemudian lihat karya HAH berjudul Malam Membimbingku Menjabat Tanganmu:
Aku ingin belajar pada malam
bagaimana membisikkan suara
yang lebih lirih daripada sepi
: malam mengajariku mengucapkan cinta
lewat mimpi-mimpimu.
(Hasan Aspahani, Malam Membimbingku Menjabat Tanganmu, Lelaki yang Dicintai Bidadari)
Dua sajak itu mencoba mengisahkan tentang usaha atau upaya mencapai kesempurnaan. SDD lebih kepada kesempurnaan cinta dan HAH mengejar kesempurnaan tentang kesunyian. Tapi inti dari pencapaian itu sama, yakni mencari yang sempurna. Meski kedua penyair ini berbeda generasi, namun untuk urusan daya imaji SDD dan HAH patut disejajarkan. Paling tidak untuk kini.
Kekuatan daya cipta HAH berangkat dari kemampuannya membuat komik strip sejak kecil. Ketika membaca beberapa puisi HAH, baik itu di blogspot, antologi puisi Orgasmaya, Telimpuh dan Lelaki yang Dicintai Bidadari seolah kita sedang membaca satu cerita bergambar yang amat menarik.
Buktinya, dalam setiap kata yang dia susun menjadi kalimat tak luput dari kehidupan nyata. Kesadaran HAH akan ruang dan waktu, membantunya mencipta satu karya yang fantastis. Keberanian HAH mengolah kata merupakan hasil reka ulang dari proses membaca karya sastra asing. Artinya, referensi yang diperoleh bukan saja lewat pemaknaan realita melainkan pemaknaan bahasa. Yang dalam hal ini dia dapatkan dari beberapa buku kumpulan puisi karya penyair Amerika dan Eropa, khususnya Spanyol.
Selain ada SDD dalam diri HAH, kredo sang presiden penyair Sutardji Calzoum Bachri (SCB) pun dia bawa dalam tas berisi jutaan kata-kata yang siap ditata apik menjadi satu tumpukan kalimat. ’Bebaskan kata dari maknanya’, satu kredo dari SCB rupanya menguntit di setiap lekuk sajaknya.
Inilah sajak yang dimaksud itu:
AKU mau jadi sebuah huruf,
sebuah konsonan yang hidup,
menyelinap di antara abjadmu.
(HAH, Menyelinap di Antara Abjadmu, Lelaki yang Dicintai Bidadari)
Dari sajak di atas, HAH berhasil melepaskan diri dari makna yang sederhana. Permainan kata dan makna tampak jelas. Anehnya, HAH tak terjebak dengan pola itu. Di negeri ini, tak banyak penyair yang berani mengubah struktur pakem. Meski tampak sederhana, HAH mampu menghadirkan sesuatu yang luar biasa.
Seperti kredo puisi yang diucapkan SCB, demikian bunyinya:
Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.
Rupanya, HAH paham betul akan makna bebas dan kata adalah pengertian itu sendiri. HAH benar-benar unik, dia lahir di zaman yang tepat. Zaman dimana semua orang masih memercayai kata sebagai pengantar.
Meski dia bukan Sapardi Djoko Damono, bukan pula Sutardji Calzoum Bachri, tapi HAH berhasil menghidupkan karakter mereka di alam imaji. HAH dengan bebas memungut setiap kata yang memang sudah lama dia simpan di alam pikirnya, dan ketika kata itu dibutuhkan, maka kapan saja HAH dengan mudah memungutnya, seperti pemulung.
Satu hal yang perlu digaris bawahi, yakni kumpulan puisi Lelaki yang Dicintai Bidadari sangat nikmat dibaca sambil minum kopi di sore hari dan sesekali mendengarkan cericit burung dan desau angin, dan sesekali pula memejamkan mata serta menguatkan indera pendengaran untuk mendengarkan bebisik kata yang disampaikan kata kepada angin yang menjadikannya senja.
Buitenzorg
13 November 2008
Hujan 2
telah datang sunyi
di separuh senjaku
menelisik lewat aortaku
mendedah dalam pagiku
sejak dia menyukai hujan
dan hujan berikan cericiknya
pelangi tak lagi dilihat
hanya derai tawa dan sedikit tangis
di pagi beningku
Buitenzorg
di separuh senjaku
menelisik lewat aortaku
mendedah dalam pagiku
sejak dia menyukai hujan
dan hujan berikan cericiknya
pelangi tak lagi dilihat
hanya derai tawa dan sedikit tangis
di pagi beningku
Buitenzorg
12 November 2008
Di Lewat Malam

jepretan Bayu G. Murti | Jurnal Bogor
lihat pada sang waktu
bandul atau pendulum yang berderak?
di antara barat dan timur
sungguh sama
seperti belahan bulan
ada sisi-sisi yang lupa terkelupas
datang malam pada pagi bening
mengintip lewat celah kebimbangan
malam meninggalkan secarik kertas di meja senja
"aku titipkan mata ini padamu. jaga dia baik-baik"
Buitenzorg
11 November 2008
09 November 2008
Tunggulah Burung Menyulam Rumah
: untuk bukit-bukit di Bandung
bukit-bukit meringis
rakyat menangis
tanah berubah beton
pohon berubah gedung
mata air berganti airmata
tanah air berganti airmata
tanah bergetar hati bergetar
mata belalak air terkuak
entah bumi yang mana
entah tanah yang mana
semua berubah
seperti musim
sesuka hati
bagai burung kehilangan sangkar
manusia pun kehilangan akal
tak ada yang tahu nasib bukit itu
tak ada yang tahu nasib tanah itu
semua telah berubah
dan tunggulah burung menyulam rumah
Bandung
bukit-bukit meringis
rakyat menangis
tanah berubah beton
pohon berubah gedung
mata air berganti airmata
tanah air berganti airmata
tanah bergetar hati bergetar
mata belalak air terkuak
entah bumi yang mana
entah tanah yang mana
semua berubah
seperti musim
sesuka hati
bagai burung kehilangan sangkar
manusia pun kehilangan akal
tak ada yang tahu nasib bukit itu
tak ada yang tahu nasib tanah itu
semua telah berubah
dan tunggulah burung menyulam rumah
Bandung
Diburu Mimpi
pagi itu,
ragu berkejaran dengan rindu
di selasar ruang tidurku
ketika mata terpejam
ragu masuk lewat celah mimpi
rindu menerjang lewat imaji
keduanya bertemu di hati
berkata hati kepada ragu
yang terengah-engah meloloskan diri dari mimpi
"hendak kemana engkau ragu"
"aku hendak bertemu mimpi," ucap ragu lirih
"bukankah mimpi telah bersamamu," jawab hati
ragu diam dan duduk di sudut hati
ketika rindu menghampiri, hati berkata
"kenapa kau tersenyum"
"karena aku telah menemukanmu," jawab rindu
"adakah hubungannya denganku?" tanya hati
"karena semua yang aku kejar ada padamu," jelas rindu
dan seketika tersenyum puas menyaksikan ragu tersudut di ruang hati.
Bandung
ragu berkejaran dengan rindu
di selasar ruang tidurku
ketika mata terpejam
ragu masuk lewat celah mimpi
rindu menerjang lewat imaji
keduanya bertemu di hati
berkata hati kepada ragu
yang terengah-engah meloloskan diri dari mimpi
"hendak kemana engkau ragu"
"aku hendak bertemu mimpi," ucap ragu lirih
"bukankah mimpi telah bersamamu," jawab hati
ragu diam dan duduk di sudut hati
ketika rindu menghampiri, hati berkata
"kenapa kau tersenyum"
"karena aku telah menemukanmu," jawab rindu
"adakah hubungannya denganku?" tanya hati
"karena semua yang aku kejar ada padamu," jelas rindu
dan seketika tersenyum puas menyaksikan ragu tersudut di ruang hati.
Bandung
Pada Bukit
pada bukit itu
Tuhan sembunyikan rahasia
dan dibalik rahasia
Tuhan sembunyikan keindahan
Bandung
Tuhan sembunyikan rahasia
dan dibalik rahasia
Tuhan sembunyikan keindahan
Bandung
04 November 2008
Dalam Rindu
pada mulanya rindu
kemudian tumpukan ragu
dan di bale itu
dulu aku pernah ada,
sama ketika aku datang lagi
perjalanan itu seperti
senja merindu
ketika sua
selesai semua
Bogor-Solo
kemudian tumpukan ragu
dan di bale itu
dulu aku pernah ada,
sama ketika aku datang lagi
perjalanan itu seperti
senja merindu
ketika sua
selesai semua
Bogor-Solo
23 Oktober 2008
Batu Kuya dan Kisah Pajajaran Anyar
Batu Kuya (Kura-kura) hilang dari tempatnya. hampir semua media baik cetak maupun elektronik di Bogor menjadikan berita itu sebagai head line di medianya, tak terkecuali media di mana saya bekerja, yakni Jurnal Bogor. sudah hampir sebulan ini, media di Bogor menjadikan Batu Kuya sebagai ladang mengeruk oplah, maklum, Batu Kuya yang konon katanya peninggalan kerajaan Tarumanegara dengan berat 50 ton dibeli taipan Korea seharga Rp 40 miliar. harga yang fantastis untuk sebuah batu yang kata warga sekitar batu bentukan alam, bukan sebagai peninggalan sejarah.
ketika pemindahan batu itu terhenti, dua media besar di Bogor, yakni Radar Bogor dan Jurnal Bogor ramai-ramai menggali lebih dalam asal muasal si Kuya. Jurnal Bogor yang lebih dikenal sebagai media yang mengangkat 'Jurnalisme Positif' tertarik untuk mengangkat berita dari sisi mistisnya. Radar Bogor tak mau ketinggalan langkah,
media milik Dahlan Iskan (Jawa Pos grup) ini tertarik untuk mengangkat masalah ada tidaknya sisi peninggalan sejarah.
terbit di hari yang sama, dua media ini seakan menunjukkan keperkasaannya di depan masyarakat Kota dan Kabupaten Bogor yang ingin mengetahui kelanjutan kasus hilangnya Batu Kuya yang terindikasi ada permainan politik, sebab pengangkutan batu tersebut sangat rapih.
sisi mistik yang diangkat Jurnal Bogor sampai ke ranah prediksi mistis kondisi Ibu Kota. Kasepuhan Kujang Dua Aki Yaman yang berlokasi di Kampung Cipatat Kolot, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Bogor Barat mengatakan bahwa Keberadaan Batu Kuya itu, merupakan bahasa siloka yang tak semua orang bisa membuka tabir rahasia bahasa ini. “Yang jelas, kepindahan Batu Kuya ke Jakarta itu punya dua makna. Makna pertama, Jakarta sudah tidak lagi dipertahankan sebagai pusat pemerintahan, dan harus dipindahkan ke Bogor, seiring dengan munculnya Pajajaran Anyar. Kedua, Batu Kuya itu memiliki arti berakhirnya para pemimpin yang bermental kuya, setelah timbul Pajajaran Anyar. Sebab, pada saat terjadi Pajajaran Anyar akan melahirkan pemimpin yang lebih berpihak dan membela masyarakat,” kata Aki Yaman.
Bagi warga Kampung Cisusuh, Desa Cileksa Kecamatan Sukajaya, keberadaan Batu Kuya itu layaknya batu alam biasa. Mereka tak pernah mengeramatkan batu yang lokasinya diapit oleh pemukiman dan lahan perkebunan milik warga. Di sekitar lokasi Batu Kuya ini warga suka mencuci barang kebutuhan rumahtangga.
Untuk menuju lokasi asal Batu Kuya itu bisa melalui jalur Jasinga. Dari lokasi Batu Kuya ke jalan Raya Jasinga berjarak sekitar 15 kilometer. Kondisinya agak sedikit datar, walaupun sebagian besar jalan di sana banyak yang rusak, dan berkelok-kelok, serta melintasi kawasan hutan penelitian Harus Bentes.
Bila menggunakan jalur jalan dari arah pusat kantor Kecamatan Sukajaya bisa mencapai 21 kilometer, dengan kondisi jalan rusak berat, dan curam, serta harus melintasi bekas perkebunan cengkih Pasir Madang.
sedangkan Radar Bogor hanya mengangkat berita sebatas ketidakterbuktiannya bahwa Batu Kuya adalah peninggalan sejarah.
dari sini, masyarakat Bogor dibuat resah, sebanarnya berita yang akurat itu yang mana?
fenomena Batu Kuya yang pengangkutannya dari Bogor ke Jakarta mendapat pengawalan empat mobil Patwal itu biarlah diam seperti simbol yang multitafsir.
Buitenzorg
ketika pemindahan batu itu terhenti, dua media besar di Bogor, yakni Radar Bogor dan Jurnal Bogor ramai-ramai menggali lebih dalam asal muasal si Kuya. Jurnal Bogor yang lebih dikenal sebagai media yang mengangkat 'Jurnalisme Positif' tertarik untuk mengangkat berita dari sisi mistisnya. Radar Bogor tak mau ketinggalan langkah,
media milik Dahlan Iskan (Jawa Pos grup) ini tertarik untuk mengangkat masalah ada tidaknya sisi peninggalan sejarah.
terbit di hari yang sama, dua media ini seakan menunjukkan keperkasaannya di depan masyarakat Kota dan Kabupaten Bogor yang ingin mengetahui kelanjutan kasus hilangnya Batu Kuya yang terindikasi ada permainan politik, sebab pengangkutan batu tersebut sangat rapih.
sisi mistik yang diangkat Jurnal Bogor sampai ke ranah prediksi mistis kondisi Ibu Kota. Kasepuhan Kujang Dua Aki Yaman yang berlokasi di Kampung Cipatat Kolot, Desa Kiara Pandak, Kecamatan Sukajaya, Kecamatan Bogor Barat mengatakan bahwa Keberadaan Batu Kuya itu, merupakan bahasa siloka yang tak semua orang bisa membuka tabir rahasia bahasa ini. “Yang jelas, kepindahan Batu Kuya ke Jakarta itu punya dua makna. Makna pertama, Jakarta sudah tidak lagi dipertahankan sebagai pusat pemerintahan, dan harus dipindahkan ke Bogor, seiring dengan munculnya Pajajaran Anyar. Kedua, Batu Kuya itu memiliki arti berakhirnya para pemimpin yang bermental kuya, setelah timbul Pajajaran Anyar. Sebab, pada saat terjadi Pajajaran Anyar akan melahirkan pemimpin yang lebih berpihak dan membela masyarakat,” kata Aki Yaman.
Bagi warga Kampung Cisusuh, Desa Cileksa Kecamatan Sukajaya, keberadaan Batu Kuya itu layaknya batu alam biasa. Mereka tak pernah mengeramatkan batu yang lokasinya diapit oleh pemukiman dan lahan perkebunan milik warga. Di sekitar lokasi Batu Kuya ini warga suka mencuci barang kebutuhan rumahtangga.
Untuk menuju lokasi asal Batu Kuya itu bisa melalui jalur Jasinga. Dari lokasi Batu Kuya ke jalan Raya Jasinga berjarak sekitar 15 kilometer. Kondisinya agak sedikit datar, walaupun sebagian besar jalan di sana banyak yang rusak, dan berkelok-kelok, serta melintasi kawasan hutan penelitian Harus Bentes.
Bila menggunakan jalur jalan dari arah pusat kantor Kecamatan Sukajaya bisa mencapai 21 kilometer, dengan kondisi jalan rusak berat, dan curam, serta harus melintasi bekas perkebunan cengkih Pasir Madang.
sedangkan Radar Bogor hanya mengangkat berita sebatas ketidakterbuktiannya bahwa Batu Kuya adalah peninggalan sejarah.
dari sini, masyarakat Bogor dibuat resah, sebanarnya berita yang akurat itu yang mana?
fenomena Batu Kuya yang pengangkutannya dari Bogor ke Jakarta mendapat pengawalan empat mobil Patwal itu biarlah diam seperti simbol yang multitafsir.
Buitenzorg
Langganan:
Postingan (Atom)




