02 Januari 2011

Taman Budaya Bogor?

Oleh: Dony P. Herwanto

Wacana pembangunan Taman Budaya di Kota Bogor masih relevan diperbincangkan. Kenapa? Sebab – ini rahasia umum – seniman kota ini, yang tergabung dalam Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor (DK3B) turut mengantarkan Diani Budiarto menduduki – lagi – jabatan Walikota Bogor untuk periode kedua. Dan tak sedikit seniman Kota Bogor mencoblos gambar Diani kala pemilihan kepala daerah 2009 silam.

Permintaan mereka – seniman-seniman itu – tak lain dan tak bukan adalah adanya ruang apresiasi. Artinya – jika Diani mau menjabarkan maksudnya – seniman Kota Bogor, dari disiplin apapun meminta dibangunkan gedung yang khusus menampung kreativitasnya, semacam Taman Budaya. Gedung Kemuning Gading yang selalu diusulkan untuk dijadikan tempat pertunjukan, belum mampu menjawab kebutuhan seniman Kota Bogor.

Dan untuk melegalkan Gedung Kemuning Gading, pemerintah membuatkan kantor – entah siapa yang meminta dibuatkan – DK3B itu. Secara simbolik, jika kantor DK3B ada di Kemuning Gading, itu berarti gedung yang berada di kompleks perkantoran Pemerintah Kota Bogor itu sekaligus ‘bisa’ dijadikan atau disebut ‘Taman Budaya’. Sungguh aneh jika berfikir demikian. Dan itu nyata terjadi di kota yang hingga sekarang belum memiliki gedung kesenian yang representative.

Saya ilustrasikan Taman Budaya Bali: Sebuah patung Kumbakarna berukuran tinggi sekitar lima meter, hasil sentuhan tangan terampil seniman I Wayan Nyungkal asal Desa Tegallalang, Kabupaten Gianyar, menjadi salah satu hiasan halaman Taman Budaya Bali. Kehadiran patung Kumbakarna tersebut sekaligus menjadikan Taman Budaya Bali sebagai sebuah percontohan bagaimana sebaiknya sebuah taman budaya dibangun yang sesuai dengan impian para seniman.

Taman Budaya Bali berlokasi di jantung Kota Denpasar, dibangun di atas lahan seluas 6,5 hektar. Pelbagai bentuk kesenian rutin ditampilkan di sana. Tak ayal, tiap akhir pekan, masyarakat Bali maupun wisatawan kerap kali berbondong-bondong memadati area Taman Budaya tersebut. Akses menuju Taman Budaya Bali pun terbilang mudah.

Lantas, bagaimana dengan Kota Bogor? Apakah pemerintah Kota Bogor sudi membangun Taman Budaya Bogor sebagai salah satu wujud kepedulian terhadap pelestarian kesenian dan kebudayaan? Jika mau, lantas siapa atau lembaga apa atau dinas apa yang akan mendapatkan proyek pembangunan Taman Budaya Bogor tersebut?

Jika amanah itu diberikan kepada DK3B, sudah mampukah lembaga kesenian Kota Bogor itu mengelolanya? Sanggupkah, lembaga yang dipimpin Sambas Bratasondjaja itu membangun Taman Budaya Bogor yang bercirikan seni budaya setempat?

Jika diberikan kepada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, siapkah mencarikan lahan sekitar 6,5 hektar, seperti yang ada di Bali? Siapkah menerima kritik atas pengelolaan dananya? Sebab, ini proyek yang menguntungkan. Tak cukup ratusan juta membangun Taman Budaya Bogor, lengkap dengan fasilitas dan pelbagai ornament yang mencirikan seni budaya setempat.

Kepemimpinan Diani sebagai Walikota Bogor memang tinggal dua tahun lagi. Artinya, masih banyak waktu bagi seniman-seniman Kota Bogor mendesak Pemerintah Kota Bogor memenuhi janjinya, membangun ruang apresiasi, Taman Budaya Bogor.

Jika elit kekuasaan kota ini peka, posisi Kota Bogor sangat menguntungkan. Dengan makin ruwetnya Jakarta, Kota Bogor mampu menjadi magnet bagi wisatawan. Wisata kuliner dan wisata belanja sudah tak diragukan lagi. Kota Bogor menjadi salah satu kota tujuan orang-orang Jakarta untuk berakhir pekan.

Kondisi Jakarta yang sudah macet, sumpek memungkinkan Bogor menjadi peralihan dari berbagai kegiatan seni di Indonesia. Seperti yang diimpikan para seniman Kota Bogor. Taman Budaya itu kelak bisa menjadi pusat kesenian di Indonesia. Ini bukan mimpi, tapi melihat peluang yang ada.

Terlepas dari itu semua, jika Taman Budaya Bogor berdiri, harus sejak dini dipikirkan tentang pengelolaan Taman Budaya tersebut. Bangunan itu tidak akan ada artinya jika tidak dikelola oleh tangan yang kreatif dan minat yang tinggi dalam pembangunan budaya dan kreativitas di Bogor.

Pemerintah harus berani keluar dari mainstream, menunjuk orang-orang yang betul -betul ahli agar Taman Budaya Bogor nantinya fungsional dan harapan seniman agar taman budaya ini menjadi pusat budaya terwujud. Jika tidak, Taman Budaya Bogor akan menjadi sarang ‘penjahat’ yang mengganggu masyarakat dan seniman itu sendiri. Begitu.

Reaksi dan Traumatik

Oleh : Dony P. Herwanto

Naluri-naluri dan segala jabarannya dapat dijajarkan sebagai pasangan-pasangan yang bertentangan, seperti hidup-mati, benci-cinta dan perbuatan-pasivitas. Kalau salah satu dari naluri-naluri menimbulkan kecemasan dengan mengadakan tekanan terhadap ego, baik langsung maupun melalui perantara superego, ego dapat mencoba untuk mengalihkan impuls yang ofensif itu dengan memusatkannya terhadap lawan.

Sigmund Freud mencontohkan, kalau perasaan benci orang lain, ego dapat mendorong arus rasa cinta untuk menyembunyikan rasa permusuhan itu. Kita dapat berkata, cinta menjadi pengganti kebencian tetapi ini tidak benar, karena perasaan agresif masih ada di bawah lapisan perasaan sayang.

Hasan Aspahani (HAH) – penyair yang kini tinggal di Batam – pernah menulis puisi berjudul, Bibirku Bersujud di Bibirmu – puisi yang ia bacakan di Taman Ismail Marzuki, 29 Januari 2006. Ini salah satu penggalan kalimat yang saya catat. Aku masih sabar menunggu, kau kirim tanda zikir-zikir/Semakin mendekat gemetar bibir, pada persujudan pasir/rukuk musafir, sampai mengerti isyarat ombak terakhir.

Apa yang kita dapatkan dari kutipan kalimat di atas? Ada semacam pertentangan batin yang tersembunyi dari ‘aku lirik’. Kesabaran ‘aku lirik’, merupakan satu pertentangan batin atau naluri. Menilik teori Freud, apa yang dilakukan HAH adalah upaya pembentukan reaksi. Kalimat, aku masih sabar dari penggalan di atas menjadi satu kedok yang menyembunyikan satu ketergesa-gesaan.

Menurut Freud, pembentukan reaksi adalah alat yang digunakan untuk menyembunyikan naluri dari kesadaran dengan mempergunakan lawannya. Bisa dibilang, ‘aku lirik’ berhasil menyembunyikan perasaan yang sebenarnya. Di sinilah, perasaan sabar yang sesungguhnya ditekan sebagai reaksi dari kemarahan atau semacam kekecewaan. Sabar sedemikian adalah palsu dan kepalsuan ini muncul akibat penekanan ego melalui perantara superego.

Sifat yang lain dari pembentukan reaksi ini adalah sifat paksaannya. Mari kita simak penggalan kalimat tersebut, Semakin mendekat gemetar bibir, pada persujudan pasir/rukuk musafir, sampai mengerti isyarat ombak terakhir. Dari penggalan tersebut, sampai mengerti isyarat ombak terakhir merupakan sifat paksaan dari pembentukan reaksi. Inilah naluri yang dijajarkan sebagai pasangan-pasangan yang bertentangan. Sabar menunggu dan memaksakan mengerti isyarat ombak terakhir.

Altruisme dapat menyembunyikan kepentingan diri sendiri, kesalahan dapat menyembunyikan kejahatan. Puisi Bibirku Bersujud di Bibirmu adalah pembentukan reaksi dari libido kekuasaan. Pertanyaannya, seberapa seringkah, HAH menyembunyikan perasaan sebenarnya itu? Proses penyembunyian perasaan inilah yang melatarbelakangi munculnya libido kekuasaan.

Bagi Freud, pembentukan-pembentukan reaksi dipergunakan baik terhadap ancaman dari luar maupun dari dalam. Seseorang yang takut terhadap orang lain, dapat memaksa diri untuk sangat ramah. Atau – kata Freud lagi – ketakutan terhadap masyarakat dapat mengambil bentuk ketaatan yang kuat terhadap tata tertib masyarakat.

Di puisi Bibirku Bersujud di Bibirmu merupakan satu bentuk ketaatan kepada masyarakat. HAH - sebagai penulis – beberapakali mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Jelas, sebagai puisi, makna kata bisa bias. Artinya, pertanyaan itu akan ditujukan kepada siapa. Berikut beberapa pertanyaan yang diajukan HAH, tanpa mengubah tipografi aslinya.

Siapa yang menangis di dermaga? Siapa menghangatkan
laut dengan airmata? Siapa yang melambai di atas palka?

Siapa yang menghentak kaki berlari ke surut samudera?
Siapa mengarak riak jadi mahagelombang maharaksasa?

Bagi saya, HAH bukan sekedar mengajukan pertanyaan-pertanyaan. HAH – menurut saya – cemas menghadapi kenyataan. Menurut Freud – dalam teori kecemasan – kecemasan tentang kenyataan adalah suatu pengalaman perasaan sebagai akibat pengamatan suatu bahaya dalam dunia luar. Bahaya adalah setiap keadaan dalam lingkungan seseorang yang mengancam untuk mencelakakannya.

Pertanyaan atau kecemasan yang diajukan HAH sangat wajar. Karena kecemasan atau ketakutan bersifat pembawaan. Artinya bahwa seseorang mewarisi kecenderungan untuk menjadi takut kalau ia berada dekat benda-benda tertentu atau keadaan tertentu dari lingkungannya.

Telah diketahui juga, ketakutan dapat membunuh seseorang. Dalam puisi ini, HAH tak mencoba membunuh orang lain. Dia membunuh perasaannya sendiri. Ya, dengan cara pembentukan reaksi dan lahirnya rasa cemas terhadap lingkungan sekitar.

Akan tetapi, kita dapat belajar untuk mengambil sikap efektif jika lonceng kecemasan itu dibunyikan. Kita lari dari bahaya atau kita berbuat sesuatu untuk meniadakannya. Kita bisa menganalisa kecemasan itu, sebelum kecemasan itu menjadi traumatik. Di puisi itu, traumatik ‘aku lirik’ terdapat dalam kalimat tanya, kenapa harus gelombang.

Kadang-kadang, pembentukan reaksi dapat memuaskan keinginan yang semula, yang terhadapnya diadakan pertahanan. Calvin S. Hall dalam bukunya Kecemasan Perpisahan, mengatakan, seorang ibu takut mengakui bahwa ia membenci anak-anaknya mungkin demikian banyak mencampuri kehidupan mereka di bawah alasan sangat memikirkan kesejahteraan dan keselamatan mereka, sehingga perlindungan yang berlebih-lebihan ini sebenarnya adalah bentuk hukuman.

Pembentukan reaksi dalam puisi Bibirku Bersujud di Bibirmu adalah satu penyesuaian yang irasional terhadap kecemasan. Sikap ini mempergunakan energi untuk tujuan-tujuan yang bukan sebenarnya. Bibirku Bersujud di Bibirmu adalah sikap HAH untuk mengaburkan kenyataan. Begitu.

Pada akhirnya, Aku semakin tak sanggup. Dengar. Dendang itu semakin sayup*

*) Diambil dari puisi Hasan Aspahani berjudul Bibirku Bersujud di Bibirmu

Jurnal Bogor Literary Award?

Oleh : Dony P. Herwanto

Maret 2010, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) melawat ke Australia. Di negeri Kanguru itu, Presiden SBY disambut hangat mantan Perdana Menteri Australia Kevin Rudd. Rombongan kepresidenan – waktu itu – tak menyangka jika Presiden SBY memberikan Kopi Luwak kepada Sang Perdana Menteri. Kalangan pers Australia menyebut peristiwa tersebut, Dung Diplomacy.

***

Baru-baru ini, saya menemui seorang kawan dari Jakarta di Food Life Yogya Bogor Junction. Kawan saya itu, seorang sastrawan dan pengusaha. Usahanya itu tak jauh dari dunia tulis menulis. Kawan saya itu memiliki perusahaan penerbitan. Saya mengenalnya dengan nama Handoko F. Zainsam. Nama kawan saya itu, mulai naik daun di Kota Bogor.

Beberapakali, dia sering diminta menjadi pembicara di acara-acara sastra di Kota Bogor. Selain pembicara yang handal, Kang Han, begitu kami (rekan-rekan komunitas sastra) mengakrabinya, juga cakap membaca puisi. Oh iya, dia juga seorang marketing yang handal. Tak percaya? Satu waktu, Anda harus menemuinya!

Sebagai sastrawan, Kang Han, sudah menerbitkan beberapa buku, baik puisi, naskah drama, dan novel. Buku puisi teranyarnya, Ma’rifat Bunda Sunyi. Sebagai pengusaha yang bergerak di bidang penerbitan buku, Kang Han yang memiliki penerbitan Mata Aksara dan Genta Pustaka sudah banyak membantu penulis menerbitkan buku, baik karya tunggal maupun antologi.

Sekilas, Kang Han ini, wajahnya mirip, hampir mirip dengan gitaris grup band Padi. Piyu. Ya, itu benar. Sekilas memang mirip. Rambut gondrong, kurus, tirus, dan mata yang tajam. Kebetulan, kedua orang yang dibicarakan ini berasal dari provinsi yang sama, Jawa Timur. Selain kemiripan fisik, entah kebetulan atau tidak, kedua-duanya suka sastra. Kuat dugaan, Kang Han dan Piyu Padi saudara sedarah. Ketika saya bertanya, benarkah ada hubungan saudara, Kang Han hanya mengumbar senyum seraya berkata, “Ah, kamu bisa saja,”

***

Sabtu (4/12) sore, saya memutuskan berakhir pekan di Food Life Yogya Bogor Junction. Itu pun atas rekomendasi kawan sekantor. Katanya, tempatnya nyaman dan menu-menunya tak kalah enak dengan menu masakan di restoran yang ada di Bogor. Tanpa pikir lama, saya pun tergoda mencoba tempat itu. Dan benar, apa yang dikatakan kawan sekantor saya itu.

Kebetulan juga, akhir pekan ini, saya ada janji dengan Kang Han. Rencana, ingin membicarakan satu proyek kerjasama, antara Jurnal Bogor dan penerbitan miliknya itu. Sekitar pukul 17.00 wib, saya sudah semeja dengan Kang Han. “Tempat barumu enak juga,” katanya, ketika melihat sekeliling food life ini.

Sehari sebelum pertemuan ini, kebetulan, Store Manager Yogya Bogor Junction, Endang Yudhi menyuguhi Kopi Luwak. Mendung di Kota Bogor memang pas untuk menikmati kopi termahal itu. Sebagai coff-a-holic, saya tak menyia-nyiakannya. Terimakasih Pak Yudhi.

Seperti membayar ucapan terimakasih Store Manager Yogya Bogor Junction, saya pun menawarkan Kopi Luwak kepada Kang Han. Dia menerima tawaran saya itu. Tanpa menunggu lama, saya segera memesan kopi kami, Kopi Luwak. Tak lama, pesanan pun datang. Lantas, kami menyeduhnya dengan hati-hati, sangat hati-hati.

***

Teguk demi teguk, kami menikmati Kopi Luwak di Food Life Yogya Bogor Junction. Di sela-sela tegukan, saya mendiskusikan ide Jurnal Bogor Literary Award, sebuah penghargaan kepada penulis cerpen dan puisi yang karyanya pernah dimuat di Jurnal Bogor. Kang Han menyimak dengan serius, seperti seorang ayah mendengarkan cerita dari anaknya usai pulang sekolah.

Satu per satu rencana yang sudah saya susun - jauh sebelum pertemuan ini – didengarkan dengan sesekali mengajukan pertanyaan, seperti kapan rencana itu akan dimulai, berapa banyak karya yang akan diikutkan Jurnal Bogor Literary Award, sampai jenis penghargaannya. Tapi yang jelas – karena ini murni ide saya – penghargaan itu akan berbentuk buku. Artinya, cerpen atau puisi yang saat ini ada di Jurnal Bogor akan dibukukan.

Sebagai seorang pengusaha di bidang penerbitan, dia langsung menyetujui dan tertarik dengan ide itu. Dia pun menawarkan diri menerbitkan buku kumpulan cerpen dan puisi Jurnal Bogor. Lantas, dia bertanya, “Siapa kuratornya?,” Nah, untuk yang satu ini belum bisa saya jawab. Kemudian, dia merekomendasikan beberapa nama untuk dijadikan kurator. Jika ada kurator, saya harus menyiapkan anggaran untuk honornya. Yang pasti, honor ini dalam jumlah yang tidak sedikit.

Kelak, jika buku itu terbit – rencananya – semua keuntungan penjualan akan masuk ke Jurnal Bogor. Sebab, karya-karya itu sudah menjadi hak milik Jurnal Bogor sejak dikirim penulisnya. Kemungkinan, Jurnal Bogor akan memberikan semacam bonus dari hasil penjualan itu. Kang Han pun berjanji, buku-buku itu akan masuk ke semua toko buku ternama yang ada di Indonesia.

Saya berimajinasi, ada sponsor yang mau memberikan modal untuk penerbitan buku kumpulan cerpen dan puisi terbaik Jurnal Bogor ini. Nah, sekarang adakah yang mau memberi kami modal? Semoga ini bukan seperti dung diplomacy itu. Begitu.

Bogor dalam Seni Rupa Kontemporer




Dalam sebuah buku sejarah seni rupa kontemporer Eropa, istilah Stuckisme atau gerakan stuckism banyak dijadikan rujukan gerakan kesenian kala itu. Adalah Billy Childish dan Charles Tompson yang memulai gerakan itu. Gerakan seni ini muncul sebagai reaksi dari dominasi wacana estetika dan pasar seni dari eksponen-eksponen Young British Artists (YBA).

Seperti yang tertulis dalam buku sejarah seni rupa di Inggris yang ditulis sendiri oleh Billy, dominasi YBA yang begitu besar juga didukung oleh monopoli pasar oleh dealer seni Charles Saacthi, yang ditandai oleh tersingkirnya para seniman lain yang berada di luar form mereka. Gerakan ini selain mempertentangkan persoalan dominasi YBA, monopoli Saacthi, juga menentang ideologi seni postmo dan conceptual art yang dianggap sudah terlalu establish di Inggris.

Selain itu, para stuckisme juga menyoroti permainan-permainan kotor para pejabat dan skandal di Tate Britain. Aksi mereka banyak mandapat sorotan publik terutama ketika mereka membeberkan beberapa skandal yang terjadi di seni rupa kepada dewan kehormatan seni.

Penamaan stuckism diambil begitu saja dari sebuah puisi Tracey Emin ketika mengomentari lukisan Billy Childish, pacarnya. Stuckism berasal dari kata “stuck” yang merupakan kata yang sering diulang oleh tracey emin dalam puisinya itu ” Your panting are stuck, …. Stuck! Stuck! Stuck!). Anggota yang bergabung dalam kelompok stuckisme ini disebut stuckist.

Untuk menandai keberadaannya, para stuckist ini membuatkan manifesto-manifesto yang intinya berisikan sikap mereka terhadap seni postmo dan conceptual art serta ketidakpercayaan mereka terhadap para kritikus seni dan pejabat. Manifesto pertama mereka menentang sikap anti proses dari seni postmo, pemakaian artisan, dimana seniman tidak lagi terlibat secara fisik dalam pembuatan karya seni.

Pada manifesto kedua, mereka menyatakan keinginan untuk menggusur seni postmo dengan paham remodernisme sebagai periode pembaharuan nilai spiritual seni, sosial dan kebudayaan.

***

Pameran Seni Rupa Bogor ArtSpirit 2010 di Gedung Kemuning Gading, Kota Bogor 13-19 Desember hampir luput dari perhatian banyak kalangan. Padahal, pameran tersebut merupakan peristiwa penting yang barangkali dapat menjawab pelbagai masalah aktual di Indonesia, khususnya di Bogor, seperti kegelisahan masyarakat urban sampai global warming. Isu-isu seperti itu masih layak diperbincangkan dalam seni rupa kontemporer. Dan di pameran seni rupa Bogor ArtSpirit 2010, ada sejumlah lukisan yang merefleksikan peristiwa-peristiwa tersebut.

Pameran yang dijadikan salah satu penanda kebangkitan seni rupa di Bogor ini pun digadang-gadang banyak perupa Bogor bernafas panjang. Ini tak terlepas dari tradisi berkesenian di Bogor yang sering muncul-tenggelam seiring minimnya apresiasi dari masyarakat, pun mungkin dari para senimannya sendiri. Dan pameran ini pun belum dapat disebut sebagai sebuah gerakan baru berkesenian di Bogor. Pasalnya, jauh sebelum pameran yang menampilkan 102 lukisan dari 42 lukisan, beberapa seniman, khususnya perupa Bogor pernah melakukan hal yang sama. Bahkan bisa dibilang lebih ekstrim.

Tahun 2003, beberapa seniman atau lebih tepatnya perupa Bogor menggelar pameran lukisan dan patung yang digelar di tempat terbuka. Itu artinya, kegelisahan terhadap kebijakan atau apresiasi dari pemerintah terhadap seni rupa sangat minim. Mengapa? Pameran di ruang terbuka memiliki arti perlawanan. Apa yang dilawan? Hanya perupa-perupa Bogor kala itu yang tahu. Dan ketika saya mencari tahu sebab musababnya, sebagian besar perupa yang ketika itu terlibat dalam perlawanan tersebut enggan berkomentar banyak. Entah dengan alasan apa, informasi sejarah peristiwa 2003 ditutupi.

Yang jelas tercatat dalam ingatan beberapa perupa Bogor kala itu adalah ketidakpedulian pemerintah Kota Bogor terhadap seniman Bogor, khususnya perupa. Pemerintah Kota Bogor hanya peduli terhadap seni tradisi yang menurut mereka (Pemerintah Kota Bogor.red) mampu mengangkat nama baik Kota Bogor di mata dunia. Itu hanya secuil kisah masa lalu proses berkesenian di Kota Bogor. Seiring waktu, seniman-seniman Bogor lebih banyak diam. Artinya, setiap proses kreatif sudah tidak memedulikan perhatian dan sumbangsih dari pemerintah yang entah karena apa, sengaja atau tidak, seolah menutup diri.

Dan kini, gerakan yang dimotori Himpunan Pelukis Bogor (HPB) ini, melanjutkan apa yang pernah dilakukan sebelumnya. Entah dengan orang-orang yang sama atau tidak. Tetapi, dari 42 pelukis yang ikut memamerkan karyanya, ada beberapa yang pernah terlibat dalam gerakan tahun 2003 itu, salah satunya Yana WS. Pematung Bogor ini menjadi salah satu saksi hidup perjuangan seniman Bogor menembus barikade birokrasi yang dipraktekkan pejabat Kota Bogor kala itu. Dan spirit perlawanan dan kegelisahan itu masih hidup hingga kini.

Apa yang sekarang ini dikerjakan HPB bersama Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor sama halnya dengan yang dilakukan kaum stuckist di Inggris. Gerakan perlawanan melalui pameran menjadi satu penanda kebangkitan perupa Bogor. Pertanyaannya, mampukah HPB, melalui pameran seni rupa Bogor ArtSpirit 2010 ini mengubah kebandelan dan ketakpedulian Pemerintah Kota Bogor akan keberadaan perupa-perupa Bogor yang ternyata jumlahnya tak sedikit. Dan perlukah, HPB memaklumatkan manifesto kesenian di Bogor? Kita tunggu bersama kelanjutan program kreatif HPB. Begitu.

Silet

Oleh: Dony P. Herwanto

Oprah Gail Winfrey terlalu berjarak dengan kami. Ia terlalu kaya. Dengan kekayaan sekitar 1,3 milyar dolar AS, ia masuk dalam daftar milyarder di dunia. Kala melihat penampilannya di layar televisi untuk kali pertama, kami tahu, dia adalah pengusaha. Kami bermimpi seperti dia saja tak berani. Apalagi memandu acara sebegitu hebatnya.

The Oprah Winfrey Show – nama acaranya - membuat debut nasional pertamanya pada tahun 1986. Acara itu meraih sukses dengan cepat dengan menjadi pertunjukan paling populer di televisi. Oprah menjadi wanita kulit hitam yang bangkit dari kemiskinan dan menjadi bintang dengan bayaran tertinggi.

The Oprah Winfrey Show menjadi talk show nomor satu saat itu, Acara ini di tonton oleh 48 juta pemirsa setiap minggunya di Amerika dan disiarkan secara internasional di 126 negara. Kata yang pantas untuknya: Cerdas, kaya, dan humoris.

Kami lebih akrab dengan Feni Rosewidyadhari atau Feni Rose, presenter utama acara Silet. Awal karirnya jelas jauh berbeda dengan Oprah. Dia memulai karir sebagai pembawa acara babak kualifikasi Formula 1 di TPI yang kini berubah menjadi MNC TV. Setelah itu, karirnya menanjak. Pada 2003, Feni sukses menjadi pembawa acara utama.

Dari sinilah, kami mengenal sosok lulusan FISIP Antropologi Universitas Indonesia tahun 1998. Sosoknya sporty, smart, and confidence. Barangkali itu karena tuntutan pekerjaan sebagai pembawa acara olahraga. Awal karirnya – tahun 1999 – Feni hanya menjadi pembawa acara pada segmen kuis GP Formula 1 di RCTI.

Selain menjadi pembaca acara F-1, Feni – yang kami kenal – juga memandu acara perempuan di Metro TV bersama Ojie Naniek, Maudy Koesnaedi, Melanie Subono dan Caroline Zachrie. Dan kami semakin akrab dengan sosok Feni yang selalu tertawa renyah diakhir pertanyaan yang dia ajukan kepada narasumbernya.

Wajah Feni Rose makin dikenal banyak kalangan, setelah menerima tawaran menjadi bintang iklan sabun cuci bermerek Surf. Dan wajah ayu perempuan kelahiran Malang, Jawa Timur, 1 November 1973 itu makin dekat dengan kami setelah menjadi presenter infotainment ‘Silet’ yang kini menunai kritik di berbagai media, termasuk Twitter, karena meresahkan dan membuat takut pengungsi dengan ‘ramalan’ palsunya.

Minggu, 7 November 2010, Feni Rose, Si Presenter ayu itu melakukan kesalahan besar. Dalam tayangan itu disebutkan, radius awan panas Gunung Merapi mencapai 65 km dan diramal akan ada ledakan besar. Ada juga pernyataan dari Feni Rose, Yogya adalah kota malapetaka. Tayangan ini juga diimbangi dengan statemen dari ahli vulkanologi.

Jelas, Feni Rose tidak sedang dalam kondisi depresi, seperti ribuan pengungsi korban Merapi. Feni dalam kondisi – dalam istilah psikologi – full consciousness (kesadaran penuh). Feni sadar, dia sedang membawakan materi yang mengandung risiko. Artinya, bila sedikit salah ucap, akan banyak datang kritik. Bagi kami, materinya sensitif.

Setelah menerima banyak kritik, Redaksi Silet meminta maaf atas kalimat yang dibacakan Feni Rose. Permintaan maafnya, mulai ditayangkan di layar RCTI hari itu juga. Permintaan maaf itu dengan latar belakang hitam dengan tulisan putih, dengan logo 'Silet' di pojok kanan bawah.

Seperti ini tulisannya, "Segenap tim Redaksi Silet memohon maaf yang sedalam-dalamnya atas pemberitaan Silet edisi Minggu, 7 November 2010 yang memuat ramalan dan pesan berantai yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya tentang prediksi Merapi. Simpati dan doa kami untuk seluruh korban bencana." Selain melalui tayangan beberapa detik itu, permintaan maaf Redaksi Silet juga disampaikan melalui running text.

Feni Rose yang pernah kami temui adalah sosok peremuan yang sederhana. Kami juga mengenalnya sebagai salah satu instruktur tari tradisional. Ketika kami tanya apa cita-citanya, Feni menjawab dengan nada santun, ‘Ingin membuat media dengan pemberitaan positif,’.